Jumat, 28 Desember 2012

Bekerja Cerdas

Dalam sebuah bukunya, Andrew Griffiths, seorang pakar UKM terkemuka asal Australia, menulis, “Tak ada peraturan yang pernah mengatakan bahwa untuk menjadi sukses dalam pekerjaan, anda harus bekerja mati-matian. Jangan selalu mengatakan bahwa anda sibuk setiap saat. Ubah ucapan anda, anda juga mengubah pikiran.”

Tulisan di atas menyadarkan saya bahwa ternyata untuk meraih kesuksesan, tidak perlu bekerja mati-matian. Apalah istilahnya, membanting tulang memeras keringat. Hehehe.
Buktinya, sampai sekarang saya masih belum merasakan kesuksesan yang berarti, dari segi income, tentunya. Dari segi mana lagi? Karena kesuksesan-kesuksesan lain akan serta-merta mengikuti kalau kesuksesan yang satu ini sudah kita raih. Money talks, kata Soleh Solihun.

Nah, tampaknya ini selaras dengan nasihat Aa Gym, “Bekerjalah dengan cerdas.” Mungkin kita memang harus bekerja dengan cerdas. Karena kalau kita hanya bekerja mati-matian, tetapi tidak taktis, hasilnya pun kurang maksimal. Lebih ekstrim lagi, tidak efektif dan efisien.

Ada lagi, nih, nasihat dari teman saya, “Mungkin alangkah lebih baiknya kalau kita memadukan dua strategi sekaligus. Bekerja keras sambil bekerja cerdas. Dengan begitu, kita akan lebih cepat mencapai kesuksesan.”

Dan, ternyata nasib teman saya tidak jauh beda dengan saya. Sampai sekarang pun, dia belum mencapai kesuksesan yang signifikan.

Arrghh... Absurd lagi... :D

Kamis, 27 Desember 2012

Kebutuhan VS. Keinginan

Dalam sebuah obrolan di Radioshow TV-One beberapa bulan yang lalu, Rene Suhardono, seorang Career Coach, mengatakan bahwa kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang terpisah.

Kita selalu dihadapkan pada dilema ini. Kita sering tidak bisa membedakan keduanya dengan jelas. Mana yang sifatnya urgent dan mana yang sebenarnya bisa ditangguhkan.

Kebutuhan adalah segala sesuatu yang harus kita penuhi untuk kelangsungan hidup. Misalnya, sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.
Sedangkan, keinginan adalah segala sesuatu yang ingin kita miliki dalam hidup. Misalnya, ingin kaya raya, ingin punya mobil mewah, dan apa saja yang diidealkan oleh manusia kebanyakan.

Berbicara masalah keinginan, tentu saja manusia tidak akan pernah puas. Sudah punya ini, ingin punya itu, nambah lagi, dan begitu seterusnya. Akibatnya banyak orang terlilit utang karena terlalu melayani keinginan-keinginannya. Dalam kondisi seperti itu, self-control sangat dibutuhkan. Jangan asal memenuhi semua keinginan kita, karena di sisi lain, kebutuhan-kebutuhan kita belum sepenuhnya terpenuhi.

Nah, ini yang sering mengganggu pikiran saya. Di lingkungan sosial, tindakan menomorsatukan keinginan kerap terjadi. Bahkan, kita pun sendiri ikut arus di dalamnya. Misalnya, suka membeli barang-barang mahal demi gengsi. Katanya, sih, biar nggak makan yang penting gaya. Hahaha.

Rene berpendapat bahwa kita selalu melakukan comparison happiness, suka membandingkan-bandingkan kebahagiaan. Misalnya, di lingkungan kerja. Seorang karyawan merasa teman kerjanya lebih sukses darinya. Mungkin dilihat dari segi penghasilan dan tingkat jabatan. Dia selalu iri dan ingin seperti temannya. Kalau dia mau merenung, coba bayangkan kalau dia dipecat? Apakah dia akan berpikir ingin seperti temannya lagi? Tentu saja tidak. Dia pasti akan berpikir, mendingan pekerjaannya tetap seperti sekarang asal jangan dipecat. Lagipula, tidak semua apa yang kita lihat itu sama dengan kenyataannya. Orang yang punya banyak uang dan tinggi jabatan belum tentu merasa senang dan tenang. 

Jadi, nikmatilah apa yang sudah kita miliki, sambil berproses meningkatkan kapasitas diri.

Sabtu, 22 Desember 2012

Bebaskan!

Teman saya yang seorang metalhead kambuhan, sering melontarkan kata tersebut. Satu kata yang sederhana. Tapi cukup membangkitkan semangat. Seakan-akan ia menjadi ungkapan emosi untuk melawan keterkungkungan diri, untuk sejenak melepaskan diri dari belenggu kepatutan. Iya, kepatutan akan sikap berbaris rapi dan menundukkan kepala terhadap norma yang dibuat manusia, yang belum tentu kebenarannya.

Jika kamu 'tak kuasa mengubah keadaan. Ambil gitarmu. Keraskan distorsi. Hentakkan kaki. Teriakkan kemuakan. Luapkan emosi. Dan, katakan dengan lantang:

BEBASKAN!

Jumat, 21 Desember 2012

The Who: Siapa Mereka?

Ini adalah sekuel dari tulisan saya sebelumnya.

Dari dulu, saya sering mendengar band tua ini, The Who. Tapi, siapa mereka?

Maklum, di masa SMA dulu, sama seperti remaja-remaja lainnya di kota saya, perhatian saya lebih tertuju pada band-band rock seperti Guns N' Roses, Metallica, Mr. Big, Bon Jovi, Dream Theater, atau Nirvana. Karena memang pada saat itu, medianya hanya menyajikan itu. Bahkan, saya hanya terobsesi pada Guns N' Roses. Saya suka tertawa geli kalau mengenang peristiwa nonton konser GNR via VCD, ditonton berulang-ulang, tak pernah bosan pula.

Semakin ke sininya, masa kuliah kalau tidak salah. Saya baru sadar bahwa banyak band lain yang bisa membuka pikiran saya. Salah satunya, The Police. Gila, keren sekali band ini. Mengapa tidak dari dulu saya suka band ini?

Untuk The Who, saya belum sempat mendengarkan lagu-lagunya sampai sekarang. Menurut cerita di majalah musik, band ini cukup menarik perhatian penikmat musik di jamannya. Kata Soleh Solihun, sih, The Brandals -band indie lokal dari Bandung- terpengaruh musik band ini. Kebetulan, saya suka musik dan aksi panggung The Brandals. Saya mengira-ngira saja, mungkin The Brandals adalah reinkarnasi dari The Who.

Okelah, setelah Frank Zappa, The Who boleh juga.


Siapa Frank Zappa?

Kemarin siang, di sela-sela obrolan dengan seorang teman, mata saya tertuju pada layar monitor di tempat kerjanya. Tampak di YouTube, seorang musisi tua sedang menyandang gitar bas. Iseng saya tanya, "Siapa dia?" Lalu, teman saya menjawab, "Frank Zappa."

Surprise... Frank Zappa, sosok yang selama ini membuat saya penasaran, dan sayangnya rasa penasaran itu dijawab duluan oleh teman saya. Idealnya sih, harusnya saya sendiri yang menjawab rasa penasaran itu. Hehehe.

Sebenarnya sudah lama, saya ingin tahu banyak tentang Frank Zappa. Cuma rasanya, niat ini belum juga kesampaian, meskipun sangat gampang sekali melakukannya, tinggal browsing di internet. Dan, sampai saat tulisan ini saya muat, niat saya ini masih juga belum kesampaian.

Kala itu, teman saya sedikit membeberkan kiprah Frank Zappa di dunia musik. Saya manggut-manggut tanda salut. Saya bertanya lagi, "Hhm... Dia bassis, ya?" Teman saya terperanjat dalam tawa bahaknya. "Pertanyaan yang konyol," katanya, "Lalu, kenapa kalau dia bassis, 'gak boleh? Sting 'kan juga bassis?"

Nah, pandangan ini yang selalu mengungkung pemikiran saya. Saya selalu menganggap kalau musisi yang bisa terkenal atau melegenda itu hanya bisa dilakukan oleh penyanyi dan gitaris saja. Entah mengapa saya selalu berpikiran seperti itu. Apa karena figur yang sering diekspos hanya sang vokalis saja? Atau, karena dulunya saya sering menonton beberapa gitaris solo yang unjuk gigi di panggung, menganggap mereka sebagai satria bergitar?

Terlepas dari itu, saya menjadi semakin yakin kalau Frank Zappa adalah seorang legenda musik yang patut saya nikmati karya-karyanya, sekaligus sebagai bahan referensi. Apalagi, setelah saya tahu kalau Soleh Solihun dalam bukunya, Celoteh Soleh, mengutip sebuah pernyataannya tentang pekerjaan jurnalis rock. Ini menambah rasa penasaran saya.

Ah, sepertinya saya harus segera mencari tahu tentang Frank Zappa, sebelum saya berubah pikiran. Mencari tahu tentang The Who. 

Sabtu, 15 Desember 2012

Aksi Ritmis Jiwa Melodis

Mengetahui siapa dalang di balik lagu-lagu Maliq & d'Essentials, ternyata adalah Widi Puradiredja, sang penggebuk drumnya. Atau, Bimbim yang memegang kendali hampir semua lagu Slank. Atau juga, Bimo -drummer bergaya vintage- yang menulis lagu-lagu pada semua band project-nya, memang menarik untuk saya tulis di sini.

Bukan karena permainan mereka yang jago, tapi lebih karena mereka berbakat menciptakan lagu hits. Bukan hanya satu atau dua buah lagu. Tapi, hampir semua lagu di setiap album rilisan band mereka. Hebat, tentu saja. Sebuah gift, mungkin. Drummer-drummer itu telah membuka pikiran saya bahwa tak selamanya lagu bagus bisa diciptakan oleh penyanyi atau gitaris. Mungkin kalau kita menengok ke luar, Lars Ulrich, drummer Metallica, adalah salah satu contohnya.

Ini mungkin pandangan dangkal saya. Bagaimana mungkin orang-orang yang terbiasa berfokus pada alat musik ritmis, dalam hal ini adalah drum, tapi memiliki kepekaan bermelodis? Ya, itu tadi, lewat kekuatan lagu-lagu yang mereka ciptakan.

Well, that's the fact. And, make applause for them.

Selasa, 20 November 2012

Yovie: The Hitsmaker

Berbicara the hitsmaker angkatan '90-an atau 2000-an, ada banyak pencetak hits di tanah air. Sebut saja Dewiq, Melly Goeslaw, Ahmad Dhani, Eross Chandra, Piyu Padi, dan mungkin masih banyak lagi. Tapi ada seorang musisi, menurut subyektivitas saya, yang karya-karyanya brilian. Dia adalah Yovie Widianto, kibordis sekaligus motor Kahitna, Founder Yovie Nuno, dan pencipta lagu beberapa penyanyi pop, seperti Audy, Rossa, atau finalis Indonesian Idol.

Mengapa saya mengategorikan Yovie sebagai seorang pencipta lagu jenius? Mudah saja, karena dia banyak menciptakan lagu-lagu manis khas Kahitna, dan hampir semuanya menjadi everlasting songs. Saya tercengang ketika saya tahu kalau lagu Satu Mimpiku (The Groove) dan Bila Kuingat (Lingua) adalah karangannya. Wah, keren sekali. Saya tidak menyangka Satu Mimpiku yang jazzy itu adalah karangan Yovie.

Beberapa bulan yang lalu, saya menonton acara Idenesia di Metro TV, yang dipandu langsung oleh Yovie. Di sela acara, Pasto tampil menyanyikan lagu Cukup Sudah, yang dulunya dipopulerkan oleh Glenn Fredly. Saya kembali tidak menyangka ketika di layar kaca tertulis Yovie Widianto yang menciptakan lagu tersebut.

Bermodal irama yang khas dan sentuhan jazz pada setiap lagunya, meskipun berada di ranah musik pop, tidak diragukan lagi kalau dia adalah salah satu musisi jenius kebanggaan Indonesia.

Ooo..eya..eyo. Kita bangun negeri ini kawan.
-Kahitna- 

Sabtu, 17 November 2012

Preposisi yang Naif

Seperti nama blog saya, apakah tulisan saya sekarang ini termasuk catatan (tak) penting juga, ya? Atau, mungkin ini termasuk catatan penting? Ah, silakan interpretasikan sendiri (jika kamu membaca), karena penting tidak penting, ini harus saya tulis mengingat kejadian ini sering terjadi di layar kaca.

Seminggu yang lalu, untuk memperingati Anniversary Naif yang ke-17, Personil Naif nongol di dua stasiun TV yang berbeda di hari yang sama. Pada satu tayangan, Naif tampil sebagai bintang tamu acara talkshow, Satu Jam Lebih Dekat. Pada tayangan lainnya, Naif manggung dalam acara Satu Jam Bersama Naif.

Dalam acara talkshow tersebut, perjalanan suka duka Naif sebagai band dikupas. Banyak kekonyolan para personil terungkap di sana. Tentu, sebagai fans Naif, saya tidak begitu kaget, karena memang seperti itu tingkah pola mereka di atas panggung atau dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih-lebih Si David, vokalisnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia menghibur penonton sampai over-act di atas panggung Soundrenaline 2004. Walhasil, penonton tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Nah, kembali ke topik. Di salah satu segmen acara talkshow tersebut, Ada semacam testimoni bergilir para personil menilai kepribadian satu sama lain. Yang menjadi perhatian saya justru tulisan di layar kaca. Begini tulisannya: PEPENG DIMATA NAIF, JARWO DIMATA NAIF, EMIL DIMATA NAIF, dan DAVID DIMATA NAIF.

Malamnya sekitar jam 10-an, Naif unjuk gigi menghibur para fans fanatiknya. Saya cukup menikmati aksi panggung mereka. Sampai tiba pada sebuah lagu yang bait refrain-nya ditulis di layar kaca mengiringi lagu itu dimainkan. Begini tulisannya, "DAVID, PEPENG, EMIL, DAN JARWO BERMAIN BERSAMA DIDALAM SATU BAND. MEREKA BERMAIN BERSAMA DIDALAM SATU BAND."
Jujur, saya agak terganggu dengan tulisan ini.

Apa benang merah isi tulisan ini? Maaf, bukan saya merasa sok tau tentang penulisan ejaan yang benar. Tapi, menurut kaedah EYD (Ejaan yang Disempurnakan), partikel di pada tulisan di atas adalah kata depan (preposisi) bukanlah awalan. Di sebagai kata depan harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan di sebagai awalan harus disambung dengan kata yang mengikutinya. Kita harus jeli dan teliti terhadap perbedaan itu.

Yang saya sayangkan, kenapa kesalahan seperti itu justru terjadi pada dua media nasional secara bersamaan.

Maaf, kalau ada yang tersinggung. Semoga menjadi kritik konstruktif. :)

Rabu, 31 Oktober 2012

Musik dan Musisi

Sekali waktu saya mendengarkan kembali lagu besutan Godbless, Musisi. Lagu lawas yang jarang kita dengar lagi riuhnya. Saya simak lagi potongan barisan liriknya, Dengarlah... ketuk nada dalam birama. Inilah... getar jiwa bagi musisi.

Sejenak saya teringat kata-kata Bono dalam film dokumenter U2 di Star Movies, From The Sky Down, "Kita sering tidak menghargai musisi tapi menghargai musiknya." Menurut interpretasi saya, sebagian besar orang pasti suka musik. Itu adalah sifat dasar manusia yang menyukai keindahan. Itu bisa kita dapatkan dari seni, termasuk musik. Itulah kenapa, kita menyimpan dan memutar banyak lagu di gadget kita. Kita menghargai musiknya. Tapi, apakah kita menghargai musisinya? Tunggu dulu, ternyata sebagian orang tidak serta-merta menghargai musisinya, padahal musik berkaitan erat dengan musisi.

Tidak usah jauh-jauh, di kota saya saja misalnya. Apresiasi terhadap orang yang memainkan musik atau menciptakan karya musik bisa dibilang minim. Bagaimana tidak, orang-orang yang berkecimpung di dunia entertainment (musisi dan penyanyi, red) mau tidak mau harus rela dibayar tidak sebanding dengan preparasi dan act perform mereka dalam sebuah acara/pesta. Belum lagi anggapan atau pandangan miring masyarakat, yang belum tentu benar, terhadap profesi bidang musik ini.

Menurut saya, terlalu naif kalau kita menjustifikasi atau bahkan menggeneralisasi bahwa profesi musisi itu kurang baik, misalnya dalam hal gaya hidup. Itu adalah pilihan hidup. Apakah kita bisa menjamin orang-orang yang berprofesi di luar musik bergaya hidup baik? Karena pada kenyataannya, gaya hidup baik maupun tidak baik itu tidak dimungkiri melekat pada tiap-tiap individu, apapun profesinya.

Kadang saya kesal ketika teman saya berkata, "Kapan kamu mau berhenti main musik?" Ah, pertanyaan yang menjengkelkan, seakan-akan itu menyiratkan bahwa dia tidak suka dengan pekerjaan 'bermain musik'. Seakan-akan dia mau menasihati saya kalau bermain musik itu tidak ada gunanya. Apakah menurut dia, bermain musik itu hanya sekadar bersenang-senang menikmati musik, dibarengi kebiasaan-kebiasaan sampingannya? Tentu saja tidak, sekali lagi itu adalah pilihan. Karena saya juga tidak pernah bertanya pada teman saya, "Kapan kamu mau berhenti merokok? Atau, kapan kamu mau berhenti blablabla...?"
Ada juga orang-orang yang sok melarang musik karena agama. Apa lagi itu, saya mau tanya dulu, "Di ponselnya masih tersimpan lagu-lagu populer saat ini, nggak?" Kalau masih ada, maka berhentilah melarang kesenangan orang lain.

Musik adalah kebutuhan jiwa. Maka, jangan mengontaminasi keberadaannya.
Musisi bekerja untuk menghibur orang lain. Bukankah pekerjaan menghibur orang lain itu baik?


Jumat, 26 Oktober 2012

Salat Daging

Saya selalu kagum pada tokoh-tokoh yang tak biasa. Tak biasa dalam arti mereka tidak kaku, tidak konvensional, dan selalu melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda. Beberapa di antaranya yang saya suka, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Gus Dur, Mahfud M.D., Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Cak Nun, dan Gus Mus. Nah, tokoh terakhir yang saya sebut ini, yang notabene sebagai kiai, bisa dibilang cukup nyentrik.

Gus Mus, menurut saya adalah salah satu kiai yang open mind, bisa menerima perubahan yang terjadi di masyarakat dengan apa adanya, tanpa resistensi yang meluap-luap. Mungkin, menurut beliau, selama sesuatu itu tidak bertentangan dengan agama, sah-sah saja. Beliau juga seorang penyair, bahkan termasuk kiai yang rajin update status di twitter. Hahaha. Keren.

Dalam acara Kick Andy, beberapa bulan yang lalu, saya mengambil pelajaran dari apa yang dia katakan. Beliau berkata bahwa masyarakat kita salatnya masih sampai pada daging, tidak sampai pada jiwa dan hati. Oleh karenanya, jangan heran jika korupsi terus terjadi di negeri ini.

Selasa, 25 September 2012

Atas Nama Pasar

Tanggal 21 September 2012 lalu, saya menonton Konser untuk Beta, Glenn Fredly di Indosiar. Sebenarnya antusiasme saya menonton Glenn Fredly di atas panggung sudah berkurang, tidak seperti dulu ketika dia sedang baru-barunya mengkultuskan diri sebagai penyanyi solo. Apa karena sekarang, saya lagi getol-getolnya menikmati musik britpop indie, ya? Ah, entahlah..., tapi yang jelas malam itu, saya iseng saja menonton performance Glenn.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya, pernyataan Glenn di sesi interview malam itu. Pernyataan Glenn yang meretorika. Dia mengatakan bahwa musik Indonesia saat ini sudah sangat berkembang. Berkat adanya jejaring sosial, banyak musisi daerah muncul ke permukaan. Tapi sayang, mereka tidak punya kanal. Major label tidak mewadahi mereka. Akhirnya, mereka bergerak sendiri melalui jalur indie. Musik di TV sekarang ini tidaklah menggambarkan musik Indonesia yang sesungguhnya.  

Benar sekali perkataan Glenn. Ke mana kejayaan musik 70-an, 80-an, dan 90-an? Mungkin benar juga kata Ahmad Dhani, musik 2000-an itu hanyalah pengulangan musik tahun-tahun sebelumnya. Lucunya, setiap ada penyanyi/band sukses menelorkan suatu jenis musik atau lagu, dan itu menjadi booming, lantas ditiru habis-habisan oleh penyanyi/band yang lain. Kenapa musik yang sedang nge-tren sekarang seperti itu-itu saja, ya?  Sampai-sampai saya bingung cari channel yang menyajikan acara musik yang bagus. Tapi, untung masih ada beberapa channel TV yang menawarkan alternatif acara musik yang beda, misalnya seperti Radioshow, Musik+, atau Musiklopedia.

Industri musik sendiri sebenarnya terbagi menjadi dua kubu, mainstream dan sidestream. Mainstream itu digerakkan oleh major label. Sementara sidestream bergerilya lewat jalur indie, Do It Yourself (DIY) kata anak indie bilang. Nah, permasalahannya sekarang adalah musik yang ditawarkan major label hanya mengikuti selera pasar semata. Masyarakat secara mayoritas ingin musik apa, itulah yang mereka (major label, red) berikan. Pendengar musik sekarang lebih suka musik easy listening, nge-pop, mellow, dan entah apa lagi sebutannya.  Kata Yovie Widianto, "Musik yang stereotype." Isi liriknya pun nyaris semua sama, seperti yang disitir Efek Rumah Kaca dalam sebuah lagunya, Cinta Melulu. "Oh oh... Lagu cinta melulu. Kita memang benar-benar melayu. Suka mendayu-dayu. Apa memang karena kuping melayu. Suka yang sendu-sendu. Lagu cinta melulu."
Maka tidaklah heran kalau penyanyi/band yang nongol di TV hanya itu-itu saja. Semua hanya datang dan pergi seketika, terkenal dan tenggelam secara instan.

Kalau saya bilang, ibaratnya seperti katak dalam tempurung. Sebenarnya masih banyak band-band indie yang kualitas musikalitasnya bagus dan unik. Hanya sayangnya, mereka tidak terekspos media nasional. Malah mereka lebih terkenal di luar negeri. Malah, yang menghargai eksistensi mereka adalah orang-orang di luar sana. Sebut saja, Mocca, The White Shoes and Couple Company, Sore, Bangkutaman, Pure Saturday, Navicula, Shaggydog, Burgerkill, dan masih banyak lagi tentunya. Silahkan searching sendiri. :)

Sudah seharusnya musik Indonesia itu mengedukasi. Eksistensi acara-acara musik yang berpihak pada musik indie harus terus dipertahankan, supaya ada balancing. Major label dan indie label harus sama-sama berdiri kuat, bahkan harus bersimbiosis mutualisme, saling melengkapi dan menopang. Tentunya, untuk satu tujuan: musik Indonesia yang berkualitas.

Jumat, 31 Agustus 2012

A Music Concert is For Fun, Not Chaos

Apakah kamu pernah menonton konser musik? Atau, pernah menonton tayangan konser musik di TV?

Saya termasuk orang yang cukup menggemari konser musik, menonton live atau hanya sekadar di TV. Lebih-lebih kalau penyanyi/band yang tampil itu adalah idola saya. Tapi, sebagai penikmat konser, kita sering terganggu oleh ulah oknum-oknum yang bukannya menonton konser, malah bikin rusuh di venue. Tentu situasi ini membuat kenyamanan penonton terganggu. Hah, lantas apa motivasi mereka menonton konser? Pengen senang-senang atau hunting lawan bertarung? :) 

Saya jarang sekali menonton konser dangdut. Tapi, saya sering mendengar bahwa hampir di setiap konser musik dangdut, kerusuhan atau pertengkaran sering terjadi. Saya tidak mengerti, apa penyebabnya? Apa karena irama musik dangdut yang rancak, yang bisa membuat tubuh penonton otomatis bergoyang, sehingga goyangan-goyangan liar tubuh mereka menyenggol pengunjung lainnya. Dan, terjadilah perkelahian. Atau mungkin juga karena pengaruh minuman keras. Lha, daripada berbekal minuman keras, lebih baik kita berbekal minuman mineral saja lah, sebagai usaha preventif kita terhadap dehidrasi ketika berjoget ria.

Bukannya bermaksud membandingkan, saya malah heran dengan konser musik metal. Meskipun, musik yang diusung gahar-sangar, saya jarang mendengar dan melihat konser musik metal itu rusuh. Sepertinya ada komunikasi yang baik dan hangat antara band yang tampil dengan fansnya. Yang satu bermain musik dari hati, satunya lagi menikmati musik dari hati. Bahkan, meskipun ada ritual senggol kanan-kiri antar penonton, yang biasa disebut moshing, tapi tetap saja acara berlangsung aman dan menyenangkan.

Pada bulan Ramadan kemarin, saya menonton berita TV tentang konser Wali yang rusuh di sebuah kota di Jawa Tengah. Sepertinya konser itu adalah konser ngabuburit. Tapi, ironis sekali, di konser pop yang minim hentakan adrenalin, di sana malah terjadi kerusuhan. Lho, apa para penonton yang berantem itu tidak berpuasa? Bulan puasa bukan bulan untuk berantem, kawan. :)

Last but not least, ada baiknya kalau kita merenung. Niat kita menonton konser untuk apa? Bersenang-senang, bukan? Nah, kalau kita mau adu jotos, mendingan pergi ke sasana tinju saja, hehe... .

Selasa, 10 Juli 2012

Musik Jujur

Semalam saya menonton Radioshow di TV-One. Seru banget, temanya Metamorfosa Jalan Potlot No. 14. Mereka yang tampil adalah anak-anak band yang sudah sukses merambah blantika musik Indonesia. Sebut saja Boris dan Njet (The Flowers), Anda Perdana (Bunga), Aray dan Dade (Ray D'Sky), Massto (Kidnap), Well Willy (No Limit), Indra Qadarsih (BIP), Reynold (ex-Slank), Sarah Wijayanto (ex-backing vocal Slank), dan beberapa musisi lainnya. Sebuah reuni kecil-kecilan yang cukup memberikan gambaran tentang kehangatan Gang Potlot yang konon katanya menjadi tempat berkumpulnya musisi-musisi jagoan Indonesia era '90-an. Acaranya cukup menghibur meskipun sejumlah dedengkot lainnya tidak bisa hadir, seperti Slank, BIP, Oppie Andaresta 'n BOP, Plastik, Anang, atau Opick. Dalam penampilannya semalam, mereka membawakan tiga lagu grunge yang saya suka juga, Would? (Alice in Chains), Daughter dan Why Go (Pearl Jam). Mereka juga membawakan beberapa lagu hits dua orang sahabat mereka yang sudah wafat, Sunset, Ikan Bakar (keduanya lagu Imanez), dan Sanggupkah (Andy Liany).

Dari beberapa obrolan mereka dengan host Wendy Putranto kemarin malam, saya teringat kembali akan sejarah panjang Gang Potlot. Tentang cerita perjalanan susah senang band besar Slank. Cikini Stone Complex yang menjadi cikal bakal Slank yang vokalisnya dulu adalah Well Willy. Anang yang nekat ke Jakarta demi karier bermusik, lalu nyasar ke Potlot hingga mendirikan Kidnap dengan Massto (adik Bimbim). Imanez (alm.) yang ternyata bersaudara dengan Didit Saad (Plastik). Baron, Ronald, dan Thomas yang sering nongkrong bareng dan bertemu Dewa Budjana di Potlot, lalu membentuk Gigi atas anjuran Pay BIP. Ahmad Dhani dan Ari Lasso yang tidak memungkiri bahwa musisi-musisi daerah, setibanya di Jakarta, pasti berkunjung dan kumpul-kumpul di gang bersejarah itu. Dan, masih banyak lagi serentetan cerita-cerita klasik-musik lainnya.

Kebetulan malam itu, sebuah stasiun TV lain menayangkan Konser AMI Awards, yang para pengisi acaranya adalah boys-girls band jaman sekarang dan penampilan host-nya hanya sekadar lawak-lawakan, kurang bisa memberikan edukasi dan wawasan musik yang sebenarnya, paling tidak untuk acara sekelas AMI Awards. Ah, saya jadi berpikir, ini adalah kemunduran industri musik Indonesia atau hanyalah sebuah transformasi tren musik industri yang sudah tidak bisa saya ikuti lagi alurnya? Bukannya saya apriori dengan kenyataan yang ada, tapi setidaknya boleh dong beropini. Toh, nantinya itu menjadi pilihan masing-masing. Mau memilih musik yang seperti itu, yang lagi ngetren saat ini atau memilih musik yang kita senangi, musik dari hati?

Satu hal yang bisa saya ambil untuk dijadikan pelajaran dari acara reuni anak-anak Potlot kemarin adalah kejujuran dalam bermusik. Menurut Dade, bassis Ray D'Sky, "Potlot itu tempatnya bermacam-macam genre musik, ada kejujuran di situ. Itu menjadi bukti, kenapa lagu-lagu Slank misalnya, masih tetap everlasting sampai sekarang. Orang-orang tidak gampang bosan mendengarkan lagu-lagu Slank." Menurut saya pribadi, lagu jaman sekarang berbeda dengan lagu jaman dulu. Kalau lagu sekarang, baru dua atau tiga kali didengarkan, orang sudah mulai bosan, dan akhirnya lagu-lagu itu tidak terdengar lagi gaungnya, hilang tergantikan lagu-lagu yang lebih baru lagi, dan begitu seterusnya. Apa karena bikinnya tidak jujur, ya? Apa karena hanya mengejar eksistensi semata, jadinya mudah nongol dan mudah juga tenggelamnya?

Merujuk pada closing statement Dade, "Bermainlah musik dengan hati. Jika kita jujur dalam bermusik. Orang yang mendengarnya akan ikut senang." Istilahnya, ada transfer dan bagi-bagi energi di situ. Saya jadi teringat pendapat Adhi (Pure Saturday) yang saya kutip di Portal Indonesia Kreatif, "Kalau kami main dan penonton nyanyi bareng, itu yang bikin puas. Kayak ada orang dengerin di Australia. Lagu kami memang nggak terlalu menjual di industri dan kami juga nggak terlalu peduli untuk dapat awards dan tetek bengek industri lainnya. Bagi kami yang berkesan ketika Pure Saturday itu ada yang mengapresiasi dan memiliki makna terhadap band ini. Kayak lagu kami “Elora” tiba-tiba jadi nama orang, terus ada yang pacaran karena lagu kami, edan gitu... maknanya dalam, dibanding awards. Karena itu sentimental banget. Nggak sembarangan, maknanya edan,” ujar Adhi. “Kalau mau bikin musik ya bikin aja, jangan kepatok buat jualan. Kalau sekarang bikin musik tuh kayak harus jualan. Yah itu pilihan. Karena kita memilih untuk tidak seperti itu”. Menurut Adhi, kunci yang membuat Pure Saturday bertahan sampai sejauh ini karena mereka jujur terhadap musik yang mereka mainkan. Mereka membuat Pure Saturday ini mengalir apa adanya dan sebisa mungkin untuk tetap eksis di musik Indonesia, lewat kejujuran mereka dalam bermain musik.

Akhir tulisan ini, support your local musicians, tentunya para musisi yang sebenarnya, yang bermain musik dengan jujur, dari hati tanpa embel-embel tertentu.

Saya bermain musik karena ingin bersenang-senang, bukan karena ingin terkenal. Kalau ada orang bermain musik hanya karena ingin dikenal, kasihan sekali mereka.
-Stephanus Adjie (Down For Life)-

Minggu, 24 Juni 2012

Songs About Jane-karta

Saya tidak akan mengulas album Maroon 5 yang bertajuk Songs About Jane. Ini tulisan seputar lagu-lagu tentang Jakarta, Songs About Jakarta.

Belakangan ini, saya kerap mendengarkan lagu-lagu Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai. Ini adalah pelarian saya terhadap ingar-bingar musik industri yang serba stereotype. Media TV sekarang diramaikan oleh eksistensi tiada henti band-band dengan musikalitas tanggung dan keceriaan semu boys-girls band.

Nah, bicara lagi soal Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai, kebetulan keempat band unik ini sama-sama memiliki lagu yang bertemakan Jakarta. Mari kita simak lirik-lirik kritis dalam lagu mereka. Pertama, adalah Navicula yang menceritakan keparahan kota Jakarta dalam lagu Metropolutan.

Kepalaku mau pecah
Emosi mau tumpah
Kota ini parah
Jalan macet bikin gerah
Di kaki gedung pongah
Injak siapa yang kalah

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan

S’lalu banjir tiap hujan
Asap jalan jadi awan
Di jantung Metropolutan
Orang-orang tak peduli
Alam berkonspirasi
Tenggelamkan kota ini

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan

Orang anti kata antri
Semua mau berlari
Berlarilah sampai mati

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota yang mau tenggelam

Ada Bangkutaman yang menulis ode tentang kehidupan urban di Jakarta lewat Ode Buat Kota.

Tuk suara bising di tiap jalan
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang

Na Nananana 

Di sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang

Na Nananana

Ku bernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Ku bernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Ku bernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Ku bernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan

Na Nananana

Untuk mereka yang selalu ada di televisi
Untuk mereka yang saling menipu diri
Untuk mereka yang berlari di lingkaran setan
Untuk mereka yang selalu bermain peran

Na Nananana

Lalu, dengan nuansa gelapnya, Efek Rumah Kaca menggambarkan kehidupan kota secara implisit dalam lagu Banyak Asap di Sana.

Hidup tak lagi sama konglomerasi pesta
Lapar bagai hama tak ada yang tersisa

Dedikasi dijaga berjejal di kepala
Demi sanak saudara hingga menyesakkan dada

Diskriminasi hanya untuk kita semua
Kado bersama-sama di musim perik tiba

Yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
Kosong di depan mata, banyak asap di sana

Menanam tak bisa, menangis pun sama
Gantung cita-cita di tepian kota

Seakan tak mau kalah, Seringai malah memprovokasi kita lewat lagu Membakar Jakarta. 

Rutinitas ini, kebosanan ini, begitu nyata. Tak ada rantai tak ada belenggu, tenggelam dan masih bernafas. Mendesain kehidupan, mendesain kematian, semua yang tercipta. Hanyalah ilusi, mengejar impian, hanyut dalam kemanjaan. 

Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan. 

Rutinitas ini akankah berhenti, selamatkan dirimu. Distraksi ini, kepuasan ini, kesemuan kini. Merekam keseharian, merekam keseluruhan, segala yang tertunda. Menjadikan bias, mendistorsi makna, tenggelam dalam. 

Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan. 

Mari sini, berdansa denganku, membakar Jakarta. Sekali ini, berdansa denganku, membakar Jakarta.

Saya bukanlah warga Jakarta. Saya pun belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Tapi dari cerita-cerita orang dan tayangan di media, sudah cukup kiranya untuk saya bisa merasakan kepenatan tinggal di ibukota. Lantas, entah kenapa masih banyak orang yang berbondong-bondong hijrah ke Jakarta, bermimpi memperoleh penghidupan yang layak di sana. Iming-iming bisa hidup enak di kota Jakarta telah membuai orang-orang dari daerah, dan seakan tidak pernah kapok untuk mengadu nasib di sana. Jakarta sudah menjadi magnet bagi mereka yang haus kemapanan. Mungkin juga karena roda ekonomi berputar cepat di sana, sehingga dijadikan jaminan untuk bisa mendapatkan uang banyak, maka hiduplah di Jakarta.

Tak dapat dimungkiri, banyak orang yang berhasil menuai sukses di Jakarta. Tapi, lebih banyak lagi yang menjadi korban keganasan kota metropolitan ini. Alhasil, pengangguran di mana-mana dan tindak kriminal semakin merajalela. Maka, jangan harap bisa survive bila kita tidak punya kecakapan dan modal diri yang cukup untuk tinggal di Jakarta, karena godaannya pun terlampau besar. Kalau Koes Plus punya lagu Kembali ke Jakarta, harusnya ada lagu tandingan yang berjudul Kembali ke Kampung Halaman. Sekadar untuk memotivasi orang-orang untuk tidak berhasrat lagi hijrah ke Jakarta, tapi lebih memilih tetap tinggal di daerah sendiri. Mari bangun dan majukan daerah sendiri, kawan. Seperti pesan Godbless lewat penggalan lirik dalam lagu Rumah Kita, “Haruskah kita beranjak ke kota yang penuh tanda tanya? Lebih baik di sini rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa. Semuanya ada di sini.”

Belum lagi masalah-masalah lain kota Jakarta yang semakin membelit. Sarana transportasi yang tidak ideal untuk kota sepadat itu, macet di mana-mana, banjir di kala hujan, polusi, areal hijau yang minim, gubuk-gubuk liar di bantaran sungai, premanisme, dan segepok masalah lain yang perlu segera ditangani. Maka tak heran kalau Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, Seringai, atau mungkin band-band lain mengangkat isu tentang muramnya kota yang dulu sempat bernama Batavia dan Jaccatra ini.

Dalam gelaran pilgub kali ini, saya mengagumi dan menjagokan Jokowi sebagai kandidat gubernur Jakarta yang baru. Tapi, siapa pun gubernur yang terpilih nantinya, kami berharap dia bisa menyembuhkan penyakit komplikasi akut Jakarta yang tak kunjung sembuh sekaligus membawa kota ini ke arah kemajuan yang ideal sesuai harapan warganya.

Ah, saya lupa. Ternyata Jakarta berulang tahun dua hari yang lalu. Walau terlambat, lewat tulisan ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Jakarta Ke-485. Bagaimanapun wajahmu hari ini, kami tetap bangga padamu sebagai kota yang pernah makmur di masa lalu.

Jayalah selalu, Jayakarta.
               

Sabtu, 23 Juni 2012

Time is Molor

Suatu ketika, seorang bocah merengek pada ibunya, meminta agar cepat diantarkan ke playgroup karena takut datang terlambat. Di lain waktu, seorang siswa TK menangis enggan masuk kelas karena terlambat datang ke sekolahnya. Pun demikian dengan murid-murid SD yang konsisten datang ke sekolah jauh lebih awal daripada gurunya. Atau mereka datang tepat waktu ke kegiatan ekskul dibandingkan pembina ekskulnya. Begitulah anak-anak, mereka cenderung datang tepat waktu.

Beberapa contoh karakter anak, menurut pandangan orang dewasa, mereka kurang atau tidak paham atas apa yang dilakukannya, melakukan sesuatu seenak hati, dan belum bisa membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Nah, kalau paradigma itu yang dibangun, berarti sikap dan perilaku tepat waktu anak-anak itu hanya sekadar ketidakpahaman atas apa yang dilakukannya, dilakukan seenak hati, dan karena mereka tidak bisa membedakan baik dan buruknya sesuatu yang dilakukan, dong? Terserah apa penilaian kamu... :)

Karena kita harus akui, setelah kita beranjak dewasa atau sudah berusia tua, kebiasaan tepat waktu sudah jarang kita lakukan lagi. Kalau orang dewasa sudah paham atas apa yang dilakukannya, dan sudah bisa membedakan baik buruknya segala sesuatu yang dilakukan, maka kebiasaan molor waktu adalah baik bagi orang dewasa, bukankah begitu? Hmm... setidaknya itu yang terjadi di sekitar saya. Orang lebih suka memolor-molor waktu ketika hendak menghadiri pertemuan atau acara yang melibatkan banyak orang. Hal itu dijadikan persepsi massive. Untuk apa datang tepat waktu? Toh, orang-orang juga akan datang molor, iya kan? Akhirnya, satu sama lain saling mengulur-ulur waktu sehingga suatu acara tidak berlangsung sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dan anehnya, itu terjadi berulang kali.

Seperti kata Dahlan Iskan, ada pembunuhan akal sehat secara besar-besaran di negeri ini. Misalnya, para pengguna kendaraan memilih menggunakan jalan tol agar tidak terjebak macet. Tapi yang terjadi, untuk masuk tol saja malah harus mengantre lama. Ini 'kan tidak sejalan dengan akal sehat. Kalau ini dibiarkan terus-menerus tentu akan membuat cara berpikir kita tidak sehat. Itu mungkin yang menyebabkan Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol Semanggi menuju Slipi, Jakarta Barat dan membiarkan banyak kendaraan masuk tol itu secara gratis, setelah mengetahui terjadi kemacetan di pintu tol itu karena salah satu loket penjaga kosong.

Hal serupa terjadi ketika saya menghadiri rapat suatu event. Saya datang tepat waktu sementara anggota lainnya belum datang. Sama juga ketika saya datang on time pada suatu seminar, tapi ternyata acaranya belum mulai. Atau ketika saya harus menunggu mobil rental yang telat datang hampir setengah jam padahal jam keberangkatan sudah ditentukan. Di lain waktu, saya pernah menunggu setengah jam di depan studio musik karena penjaga studionya belum datang. Saya juga harus menunggu teman band yang belum datang, padahal kami harus masuk studio sesuai jadwal yang disepakati. Akhirnya, segala sesuatu yang sudah kita rencanakan akan berjalan lancar, lagi-lagi menjadi molor akibat sikap indisipliner ini.

Tapi begitulah realitanya. Kita menjadi maklum dan seakan-akan dipaksa menyesuaikan dengan kondisi yang ada, kalau tidak mau dianggap sok disiplin. Mungkin karena sekarang jaman edan, semua serba terbalik. Logika dalam memandang persepsi ini pun jadi terbolak-balik. Yang salah itu wajar dan yang benar itu aneh. Kita pun ikut terseret dalam lingkaran ketidakberesan ini. Time is Money tidak berlaku lagi sekarang, justru yang lebih populer adalah Time is Molor. :)

Jadi, nikmati saja... .
Tertawakan saja kondisi absurd ini.
Hahaha... .

Retorika

Ketika nge-host di Radioshow TV One, Sandy pernah berkelakar seperti ini, "Kalau kita nunggu tindakan pemerintah, kayak nungguin bus di busway, lama banget. Giliran busnya dateng, malah sudah penuh penumpang... ." Mungkin benar juga analogi ala Sandy tersebut, inilah realita. Banyak orang skeptis terhadap tindakan pemerintah. Problem layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan masih belum dapat terakomodir secara maksimal. Sepertinya tugas-tugas yang harus dikerjakan pemerintah terlampau banyak dan dibutuhkan proses panjang untuk menyelesaikannya.

Yah, daripada kita mengkritik tiada habis, lebih baik kita berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara ini. Tidak usah jauh-jauh, untuk lingkungan sekitar saja dulu. Apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita? Contoh kecil, apakah kita sudah konsisten menjaga kebersihan lingkungan kita? Bisakah kita membuang sampah pada tempatnya meskipun hanya bungkusan permen atau puntung rokok? Atau contoh lain, bisakah kita ajeg mematuhi tata tertib lalu lintas, tidak menerobos jalan ketika lampu merah menyala dan tetap setia menunggu lampu hijau menyala, meskipun suasana jalan raya sedang lengang dan tidak ada polantas di sana?

Lalu, untuk apa kita bersungut-sungut mencerca pemerintah kalau kita sendiri belum membenahi diri kita sendiri. Kata Navicula, band indie dari Bali, dalam lirik Over Konsumsi, "Selamatkan diri kita dari diri kita sendiri." Ini hanya pendapat subjektif saya saja, sepertinya lewat lirik tersebut, Navicula ingin mengajak kita untuk merefleksi diri.

Sebenarnya mengkritik boleh-boleh saja, sebagai bentuk kontrol kita terhadap kebijakan pemerintah. Tapi, kita juga harus mengkritik diri kita juga, toh. Apa gunanya mahasiswa menggelar demo, mengkritik kebijakan pemerintah? Di sisi lain, mereka masih suka bolos kuliah, mabuk-mabukan, nge-drug, dan freesex. Atau jangan-jangan setelah mereka sudah tua nanti malah ikut-ikutan korup. Malah seperti lagu Distorsi-nya Ahmad Band, "Yang muda mabok. Yang tua korup. Mabok terus korup terus. Jayalah negeri ini. Merdeka!!"

Ya, sudahlah... Biarlah pemerintah mengurus negara ini dengan caranya sendiri. Toh, jika tidak mengemban amanat itu dengan baik, mereka pasti dapat karmanya, iya kan? Kita sebagai rakyat jelata, lakukan saja sesuatu yang berarti bagi lingkungan sekitar, sekecil apapun.

Perubahan pasti akan terjadi.
Keep faith on process...!!!

Kamis, 07 Juni 2012

Mengutip Sang Motivator

Mario Teguh pernah menulis ini di status Facebook-nya. Sebuah quote yang sudah cukup lama tersimpan di catatan ponsel saya. Berikut ini kutipannya:

Apa tingkat pendidikan yang tinggi menjamin sukses?
Bagaimana dengan yang tidak pernah sekolah, apa bisa sukses?

Satu, sesungguhnya tidak ada yang bisa menjamin apapun, kecuali dengan ijin Tuhan.
Dua, orang yang berpendidikan belum tentu sukses, tapi sudah ditinggikan derajatnya.
Tiga, orang tanpa pendidikan tetap bisa berhasil, meskipun lebih sulit.

Berpendidikan tetap lebih baik.

Salam Super, Pak Mario... .

Proposal Diri

Apakah kamu tahu Elang Gumilang? Iya, dia seorang entrepreneur muda yang sukses mengembangkan proyek perumahan untuk rakyat kecil pada usia 25 tahun. Di saat banyak developer membangun perumahan untuk kalangan menengah ke atas, justru Elang membangun perumahan untuk rakyat miskin. Apa rahasia suksesnya? Tentu saja kerja keras dan strategi yang mantap. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Ada faktor-faktor alami yang luput dari perhatian orang, yang membawanya pada pintu kesuksesan. 

Dalam suatu interview di Radioshow TV One beberapa bulan yang lalu, Elang berkata kepada Sandy dan Buluk bahwa dia menggunakan dirinya sebagai proposal untuk memperkenalkan bisnisnya. Secara teknis, proposal biasanya bersifat tertulis yang menggambarkan job description suatu usaha atau bisnis. Tapi, menurutnya ada proposal lain yang jauh lebih penting, yaitu proposal diri. Elang bercerita waktu pertama kali memulai proyeknya, dia sama sekali tidak mempunyai modal. Meskipun demikian, dia punya nilai tawar yang menjanjikan, yakni kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab. Di mata teman-temannya, dia memang dinilai jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan setiap bisnisnya. Karena kepercayaan itu, akhirnya beberapa teman bersedia memodali proyeknya. Singkat cerita, proyeknya pun berhasil.

Kawan, coba kita renungkan betapa dahsyatnya kekuatan nilai kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab. Dalam sebuah pertemanan, nilai-nilai itu harus kita pelihara. Bagaimana mungkin teman akan bekerjasama dengan kita kalau kita tidak jujur? Dan, bagaimana mungkin teman akan percaya pada bisnis kita kalau kita tidak punya rasa tanggung jawab?

Sungguh sangat disayangkan jika jaringan pertemanan kita yang cukup luas, akhirnya tali-tali pengikatnya putus satu-persatu akibat kita lalai menjaga nilai-nilai tersebut. Maka dari itu, seyogyanya kita sebagai makhluk sosial harus mampu menjaga tali pertemanan yang sudah kuat agar kita bisa membantu satu sama lain. Sudah semestinya pertemanan itu saling menguntungkan, bukan malah ada yang merasa dirugikan. Seperti simbiosis mutualisme, bukan simbiosis parasitisme. Seperti apa yang pernah ditulis Lily Wibisono di Intisari, bagaimana kita akan mengatakan kepada teman, “Kau betul-betul kawan sejati,” bila kita tidak merasakan tindakannya sebagai “kawan”?

Keep the friendship, guys...!!!


Rabu, 06 Juni 2012

Talk Less Do More

Dalam tayangan iklannya, Classmild kerap memberikan jargon ini, Talk Less Do More. Sekadar mengingatkan dan mengajak kita untuk sedikit bicara, tapi berbuat lebih banyak. Sungguh tepat kiranya jika pesan moral dalam iklan itu, kita jadikan prinsip hidup. Godbless lewat lagunya, N.A.T.O (No Action Talk Only) juga menceritakan tentang orang-orang yang hanya bisa ngomong, kritik sana-sini tapi tidak ada tindakan nyata. Hmm... layaknya komentator sepakbola dan pengamat politik.

Apakah itu gambaran kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan? Bisa saja begitu, karena berbicara memang lebih gampang daripada berbuat. Apa juga karena sistem pendidikan kita yang lebih banyak teori daripada aplikasi, sehingga sumber daya manusianya lebih banyak berteori daripada melakukan perubahan-perubahan tertentu? Saya pun merasa tumbuh dan berkembang melalui sistem pendidikan ini, punya ide-ide kreatif tapi tidak punya kapasitas yang cukup untuk mengembangkannya. Saya hanya bisa mengkritik kebijakan tapi tidak bisa ikut serta membenahi.

Teman-teman di sekitar saya pun demikian. Setiap kali ngobrol bareng atau sekadar sharing, bahasan yang saya tangkap seputar kritik dan pesimisme saja, haha... . Dalam beberapa kali obrolan, ada saja ide-ide kreatif yang terlontar, yang tentu saja tujuannya untuk mengembangkan diri dan menambah income. Misalnya, ide untuk mendirikan koperasi, kongsi dagang, lembaga bimbingan belajar, outbond, atau bahkan membuat studio musik dengan tempat nongkrongnya. Di lain obrolan, ada juga yang berinisiatif membuat majalah, video klip, film indie, dan home band. Teman-teman saya yang lain juga ingin membuka usaha kuliner, peternakan, dan agraris. Tapi sayang, sepertinya mereka tidak punya kesiapan dan kapasitas yang cukup untuk merealisasikannya. Semua obrolan tentang ide-ide kreatif itu terbawa angin entah kemana.

Saya sebenarnya punya keinginan untuk memproduksi dan memasarkan lagu-lagu sendiri secara indie, membuka sanggar musik, dan mengupayakan agar sekolah tempat saya mengajar punya kegiatan musik tradisional. Saya juga ingin mengajak teman-teman saya untuk bisa menjadi volunteer di sekolah saya, mengajarkan kemampuan atau keahlian mereka masing-masing pada anak-anak didik, semisal melukis, desain grafis, arsitek, dan sebagainya. Hah, lagi-lagi itu hanya sebatas wacana tanpa tindakan, sampai sekarang pun saya belum mampu mewujudkannya. Rasa-rasanya konsep dan idealisme kita masih suka terbang mengawang-awang di udara, tidak berpijak di bumi.

Lalu, bagaimana cara mewujudkan ide-ide brillian itu? Mungkin kita bisa mewujudkannya kalau kita mau berusaha dan tidak banyak omong tentunya. Menurut saya, berpikirlah yang sederhana, jangan muluk-muluk. Kata Dahlan Iskan, dalam Manufacturing Hope, Jawa Pos, "Hidup itu yang polos-polos saja." 
Terbitkan niat dan semangat dalam diri sendiri. Intinya diri sendiri dulu, baru kita tularkan pada orang lain. Thinking out of the box, execute inside the box. Begitulah kata Yoris Sebastian. Berpikir di luar kotak itu boleh-boleh saja, tapi kalau sudah ketemu idenya maka cepat-cepatlah masukkan lagi ke dalam kotak agar ide itu tidak kemana-mana. Lalu, buatlah komitmen untuk segera mewujudkannya. Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga,'kan? Saya percaya kesuksesan itu adalah proses, bukannya instan. Seperti kata Tan Malaka, orang yang sukses di masa depan adalah orang yang tidak pernah lelah dalam berproses.

Maka, merujuk pada jargon Talk Less Do More, berbicaralah tentang suatu ide dengan sewajarnya, dan segera lakukan aksi yang sesungguhnya. Mulai dari hal-hal kecil, simpel, dan yang bisa dikerjakan sekarang. Bukankah hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil?
Never stop thinking creatively and make it real...!!!