Seperti nama blog saya, apakah tulisan saya sekarang ini termasuk catatan (tak) penting juga, ya? Atau, mungkin ini termasuk catatan penting? Ah, silakan interpretasikan sendiri (jika kamu membaca), karena penting tidak penting, ini harus saya tulis mengingat kejadian ini sering terjadi di layar kaca.
Seminggu yang lalu, untuk memperingati Anniversary Naif yang ke-17, Personil Naif nongol di dua stasiun TV yang berbeda di hari yang sama. Pada satu tayangan, Naif tampil sebagai bintang tamu acara talkshow, Satu Jam Lebih Dekat. Pada tayangan lainnya, Naif manggung dalam acara Satu Jam Bersama Naif.
Dalam acara talkshow tersebut, perjalanan suka duka Naif sebagai band dikupas. Banyak kekonyolan para personil terungkap di sana. Tentu, sebagai fans Naif, saya tidak begitu kaget, karena memang seperti itu tingkah pola mereka di atas panggung atau dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih-lebih Si David, vokalisnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia menghibur penonton sampai over-act di atas panggung Soundrenaline 2004. Walhasil, penonton tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Nah, kembali ke topik. Di salah satu segmen acara talkshow tersebut, Ada semacam testimoni bergilir para personil menilai kepribadian satu sama lain. Yang menjadi perhatian saya justru tulisan di layar kaca. Begini tulisannya: PEPENG DIMATA NAIF, JARWO DIMATA NAIF, EMIL DIMATA NAIF, dan DAVID DIMATA NAIF.
Malamnya sekitar jam 10-an, Naif unjuk gigi menghibur para fans fanatiknya. Saya cukup menikmati aksi panggung mereka. Sampai tiba pada sebuah lagu yang bait refrain-nya ditulis di layar kaca mengiringi lagu itu dimainkan. Begini tulisannya, "DAVID, PEPENG, EMIL, DAN JARWO BERMAIN BERSAMA DIDALAM SATU BAND. MEREKA BERMAIN BERSAMA DIDALAM SATU BAND."
Jujur, saya agak terganggu dengan tulisan ini.
Apa benang merah isi tulisan ini? Maaf, bukan saya merasa sok tau tentang penulisan ejaan yang benar. Tapi, menurut kaedah EYD (Ejaan yang Disempurnakan), partikel di pada tulisan di atas adalah kata depan (preposisi) bukanlah awalan. Di sebagai kata depan harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan di sebagai awalan harus disambung dengan kata yang mengikutinya. Kita harus jeli dan teliti terhadap perbedaan itu.
Yang saya sayangkan, kenapa kesalahan seperti itu justru terjadi pada dua media nasional secara bersamaan.
Maaf, kalau ada yang tersinggung. Semoga menjadi kritik konstruktif. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar