Rabu, 06 Juni 2012

Talk Less Do More

Dalam tayangan iklannya, Classmild kerap memberikan jargon ini, Talk Less Do More. Sekadar mengingatkan dan mengajak kita untuk sedikit bicara, tapi berbuat lebih banyak. Sungguh tepat kiranya jika pesan moral dalam iklan itu, kita jadikan prinsip hidup. Godbless lewat lagunya, N.A.T.O (No Action Talk Only) juga menceritakan tentang orang-orang yang hanya bisa ngomong, kritik sana-sini tapi tidak ada tindakan nyata. Hmm... layaknya komentator sepakbola dan pengamat politik.

Apakah itu gambaran kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan? Bisa saja begitu, karena berbicara memang lebih gampang daripada berbuat. Apa juga karena sistem pendidikan kita yang lebih banyak teori daripada aplikasi, sehingga sumber daya manusianya lebih banyak berteori daripada melakukan perubahan-perubahan tertentu? Saya pun merasa tumbuh dan berkembang melalui sistem pendidikan ini, punya ide-ide kreatif tapi tidak punya kapasitas yang cukup untuk mengembangkannya. Saya hanya bisa mengkritik kebijakan tapi tidak bisa ikut serta membenahi.

Teman-teman di sekitar saya pun demikian. Setiap kali ngobrol bareng atau sekadar sharing, bahasan yang saya tangkap seputar kritik dan pesimisme saja, haha... . Dalam beberapa kali obrolan, ada saja ide-ide kreatif yang terlontar, yang tentu saja tujuannya untuk mengembangkan diri dan menambah income. Misalnya, ide untuk mendirikan koperasi, kongsi dagang, lembaga bimbingan belajar, outbond, atau bahkan membuat studio musik dengan tempat nongkrongnya. Di lain obrolan, ada juga yang berinisiatif membuat majalah, video klip, film indie, dan home band. Teman-teman saya yang lain juga ingin membuka usaha kuliner, peternakan, dan agraris. Tapi sayang, sepertinya mereka tidak punya kesiapan dan kapasitas yang cukup untuk merealisasikannya. Semua obrolan tentang ide-ide kreatif itu terbawa angin entah kemana.

Saya sebenarnya punya keinginan untuk memproduksi dan memasarkan lagu-lagu sendiri secara indie, membuka sanggar musik, dan mengupayakan agar sekolah tempat saya mengajar punya kegiatan musik tradisional. Saya juga ingin mengajak teman-teman saya untuk bisa menjadi volunteer di sekolah saya, mengajarkan kemampuan atau keahlian mereka masing-masing pada anak-anak didik, semisal melukis, desain grafis, arsitek, dan sebagainya. Hah, lagi-lagi itu hanya sebatas wacana tanpa tindakan, sampai sekarang pun saya belum mampu mewujudkannya. Rasa-rasanya konsep dan idealisme kita masih suka terbang mengawang-awang di udara, tidak berpijak di bumi.

Lalu, bagaimana cara mewujudkan ide-ide brillian itu? Mungkin kita bisa mewujudkannya kalau kita mau berusaha dan tidak banyak omong tentunya. Menurut saya, berpikirlah yang sederhana, jangan muluk-muluk. Kata Dahlan Iskan, dalam Manufacturing Hope, Jawa Pos, "Hidup itu yang polos-polos saja." 
Terbitkan niat dan semangat dalam diri sendiri. Intinya diri sendiri dulu, baru kita tularkan pada orang lain. Thinking out of the box, execute inside the box. Begitulah kata Yoris Sebastian. Berpikir di luar kotak itu boleh-boleh saja, tapi kalau sudah ketemu idenya maka cepat-cepatlah masukkan lagi ke dalam kotak agar ide itu tidak kemana-mana. Lalu, buatlah komitmen untuk segera mewujudkannya. Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga,'kan? Saya percaya kesuksesan itu adalah proses, bukannya instan. Seperti kata Tan Malaka, orang yang sukses di masa depan adalah orang yang tidak pernah lelah dalam berproses.

Maka, merujuk pada jargon Talk Less Do More, berbicaralah tentang suatu ide dengan sewajarnya, dan segera lakukan aksi yang sesungguhnya. Mulai dari hal-hal kecil, simpel, dan yang bisa dikerjakan sekarang. Bukankah hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil?
Never stop thinking creatively and make it real...!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar