Dalam sebuah obrolan di Radioshow TV-One beberapa bulan yang lalu, Rene Suhardono, seorang Career Coach, mengatakan bahwa kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang terpisah.
Kita selalu dihadapkan pada dilema ini. Kita sering tidak bisa membedakan keduanya dengan jelas. Mana yang sifatnya urgent dan mana yang sebenarnya bisa ditangguhkan.
Kebutuhan adalah segala sesuatu yang harus kita penuhi untuk kelangsungan hidup. Misalnya, sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.
Sedangkan, keinginan adalah segala sesuatu yang ingin kita miliki dalam hidup. Misalnya, ingin kaya raya, ingin punya mobil mewah, dan apa saja yang diidealkan oleh manusia kebanyakan.
Berbicara masalah keinginan, tentu saja manusia tidak akan pernah puas. Sudah punya ini, ingin punya itu, nambah lagi, dan begitu seterusnya. Akibatnya banyak orang terlilit utang karena terlalu melayani keinginan-keinginannya. Dalam kondisi seperti itu, self-control sangat dibutuhkan. Jangan asal memenuhi semua keinginan kita, karena di sisi lain, kebutuhan-kebutuhan kita belum sepenuhnya terpenuhi.
Nah, ini yang sering mengganggu pikiran saya. Di lingkungan sosial, tindakan menomorsatukan keinginan kerap terjadi. Bahkan, kita pun sendiri ikut arus di dalamnya. Misalnya, suka membeli barang-barang mahal demi gengsi. Katanya, sih, biar nggak makan yang penting gaya. Hahaha.
Rene berpendapat bahwa kita selalu melakukan comparison happiness, suka membandingkan-bandingkan kebahagiaan. Misalnya, di lingkungan kerja. Seorang karyawan merasa teman kerjanya lebih sukses darinya. Mungkin dilihat dari segi penghasilan dan tingkat jabatan. Dia selalu iri dan ingin seperti temannya. Kalau dia mau merenung, coba bayangkan kalau dia dipecat? Apakah dia akan berpikir ingin seperti temannya lagi? Tentu saja tidak. Dia pasti akan berpikir, mendingan pekerjaannya tetap seperti sekarang asal jangan dipecat. Lagipula, tidak semua apa yang kita lihat itu sama dengan kenyataannya. Orang yang punya banyak uang dan tinggi jabatan belum tentu merasa senang dan tenang.
Jadi, nikmatilah apa yang sudah kita miliki, sambil berproses meningkatkan kapasitas diri.
Kita selalu dihadapkan pada dilema ini. Kita sering tidak bisa membedakan keduanya dengan jelas. Mana yang sifatnya urgent dan mana yang sebenarnya bisa ditangguhkan.
Kebutuhan adalah segala sesuatu yang harus kita penuhi untuk kelangsungan hidup. Misalnya, sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.
Sedangkan, keinginan adalah segala sesuatu yang ingin kita miliki dalam hidup. Misalnya, ingin kaya raya, ingin punya mobil mewah, dan apa saja yang diidealkan oleh manusia kebanyakan.
Berbicara masalah keinginan, tentu saja manusia tidak akan pernah puas. Sudah punya ini, ingin punya itu, nambah lagi, dan begitu seterusnya. Akibatnya banyak orang terlilit utang karena terlalu melayani keinginan-keinginannya. Dalam kondisi seperti itu, self-control sangat dibutuhkan. Jangan asal memenuhi semua keinginan kita, karena di sisi lain, kebutuhan-kebutuhan kita belum sepenuhnya terpenuhi.
Nah, ini yang sering mengganggu pikiran saya. Di lingkungan sosial, tindakan menomorsatukan keinginan kerap terjadi. Bahkan, kita pun sendiri ikut arus di dalamnya. Misalnya, suka membeli barang-barang mahal demi gengsi. Katanya, sih, biar nggak makan yang penting gaya. Hahaha.
Rene berpendapat bahwa kita selalu melakukan comparison happiness, suka membandingkan-bandingkan kebahagiaan. Misalnya, di lingkungan kerja. Seorang karyawan merasa teman kerjanya lebih sukses darinya. Mungkin dilihat dari segi penghasilan dan tingkat jabatan. Dia selalu iri dan ingin seperti temannya. Kalau dia mau merenung, coba bayangkan kalau dia dipecat? Apakah dia akan berpikir ingin seperti temannya lagi? Tentu saja tidak. Dia pasti akan berpikir, mendingan pekerjaannya tetap seperti sekarang asal jangan dipecat. Lagipula, tidak semua apa yang kita lihat itu sama dengan kenyataannya. Orang yang punya banyak uang dan tinggi jabatan belum tentu merasa senang dan tenang.
Jadi, nikmatilah apa yang sudah kita miliki, sambil berproses meningkatkan kapasitas diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar