Sekali waktu saya mendengarkan kembali lagu besutan Godbless, Musisi. Lagu lawas yang jarang kita dengar lagi riuhnya. Saya simak lagi potongan barisan liriknya, Dengarlah... ketuk nada dalam birama. Inilah... getar jiwa bagi musisi.
Sejenak saya teringat kata-kata Bono dalam film dokumenter U2 di Star Movies, From The Sky Down, "Kita sering tidak menghargai musisi tapi menghargai musiknya." Menurut interpretasi saya, sebagian besar orang pasti suka musik. Itu adalah sifat dasar manusia yang menyukai keindahan. Itu bisa kita dapatkan dari seni, termasuk musik. Itulah kenapa, kita menyimpan dan memutar banyak lagu di gadget kita. Kita menghargai musiknya. Tapi, apakah kita menghargai musisinya? Tunggu dulu, ternyata sebagian orang tidak serta-merta menghargai musisinya, padahal musik berkaitan erat dengan musisi.
Tidak usah jauh-jauh, di kota saya saja misalnya. Apresiasi terhadap orang yang memainkan musik atau menciptakan karya musik bisa dibilang minim. Bagaimana tidak, orang-orang yang berkecimpung di dunia entertainment (musisi dan penyanyi, red) mau tidak mau harus rela dibayar tidak sebanding dengan preparasi dan act perform mereka dalam sebuah acara/pesta. Belum lagi anggapan atau pandangan miring masyarakat, yang belum tentu benar, terhadap profesi bidang musik ini.
Menurut saya, terlalu naif kalau kita menjustifikasi atau bahkan menggeneralisasi bahwa profesi musisi itu kurang baik, misalnya dalam hal gaya hidup. Itu adalah pilihan hidup. Apakah kita bisa menjamin orang-orang yang berprofesi di luar musik bergaya hidup baik? Karena pada kenyataannya, gaya hidup baik maupun tidak baik itu tidak dimungkiri melekat pada tiap-tiap individu, apapun profesinya.
Kadang saya kesal ketika teman saya berkata, "Kapan kamu mau berhenti main musik?" Ah, pertanyaan yang menjengkelkan, seakan-akan itu menyiratkan bahwa dia tidak suka dengan pekerjaan 'bermain musik'. Seakan-akan dia mau menasihati saya kalau bermain musik itu tidak ada gunanya. Apakah menurut dia, bermain musik itu hanya sekadar bersenang-senang menikmati musik, dibarengi kebiasaan-kebiasaan sampingannya? Tentu saja tidak, sekali lagi itu adalah pilihan. Karena saya juga tidak pernah bertanya pada teman saya, "Kapan kamu mau berhenti merokok? Atau, kapan kamu mau berhenti blablabla...?"
Ada juga orang-orang yang sok melarang musik karena agama. Apa lagi itu, saya mau tanya dulu, "Di ponselnya masih tersimpan lagu-lagu populer saat ini, nggak?" Kalau masih ada, maka berhentilah melarang kesenangan orang lain.
Musik adalah kebutuhan jiwa. Maka, jangan mengontaminasi keberadaannya.
Musisi bekerja untuk menghibur orang lain. Bukankah pekerjaan menghibur orang lain itu baik?
Sejenak saya teringat kata-kata Bono dalam film dokumenter U2 di Star Movies, From The Sky Down, "Kita sering tidak menghargai musisi tapi menghargai musiknya." Menurut interpretasi saya, sebagian besar orang pasti suka musik. Itu adalah sifat dasar manusia yang menyukai keindahan. Itu bisa kita dapatkan dari seni, termasuk musik. Itulah kenapa, kita menyimpan dan memutar banyak lagu di gadget kita. Kita menghargai musiknya. Tapi, apakah kita menghargai musisinya? Tunggu dulu, ternyata sebagian orang tidak serta-merta menghargai musisinya, padahal musik berkaitan erat dengan musisi.
Tidak usah jauh-jauh, di kota saya saja misalnya. Apresiasi terhadap orang yang memainkan musik atau menciptakan karya musik bisa dibilang minim. Bagaimana tidak, orang-orang yang berkecimpung di dunia entertainment (musisi dan penyanyi, red) mau tidak mau harus rela dibayar tidak sebanding dengan preparasi dan act perform mereka dalam sebuah acara/pesta. Belum lagi anggapan atau pandangan miring masyarakat, yang belum tentu benar, terhadap profesi bidang musik ini.
Menurut saya, terlalu naif kalau kita menjustifikasi atau bahkan menggeneralisasi bahwa profesi musisi itu kurang baik, misalnya dalam hal gaya hidup. Itu adalah pilihan hidup. Apakah kita bisa menjamin orang-orang yang berprofesi di luar musik bergaya hidup baik? Karena pada kenyataannya, gaya hidup baik maupun tidak baik itu tidak dimungkiri melekat pada tiap-tiap individu, apapun profesinya.
Kadang saya kesal ketika teman saya berkata, "Kapan kamu mau berhenti main musik?" Ah, pertanyaan yang menjengkelkan, seakan-akan itu menyiratkan bahwa dia tidak suka dengan pekerjaan 'bermain musik'. Seakan-akan dia mau menasihati saya kalau bermain musik itu tidak ada gunanya. Apakah menurut dia, bermain musik itu hanya sekadar bersenang-senang menikmati musik, dibarengi kebiasaan-kebiasaan sampingannya? Tentu saja tidak, sekali lagi itu adalah pilihan. Karena saya juga tidak pernah bertanya pada teman saya, "Kapan kamu mau berhenti merokok? Atau, kapan kamu mau berhenti blablabla...?"
Ada juga orang-orang yang sok melarang musik karena agama. Apa lagi itu, saya mau tanya dulu, "Di ponselnya masih tersimpan lagu-lagu populer saat ini, nggak?" Kalau masih ada, maka berhentilah melarang kesenangan orang lain.
Musik adalah kebutuhan jiwa. Maka, jangan mengontaminasi keberadaannya.
Musisi bekerja untuk menghibur orang lain. Bukankah pekerjaan menghibur orang lain itu baik?
Punk itu rebellion against authority, jazz itu kebebasan, metal itu teriakan jiwa, musik itu bahasa universal
BalasHapus