Minggu, 24 Juni 2012

Songs About Jane-karta

Saya tidak akan mengulas album Maroon 5 yang bertajuk Songs About Jane. Ini tulisan seputar lagu-lagu tentang Jakarta, Songs About Jakarta.

Belakangan ini, saya kerap mendengarkan lagu-lagu Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai. Ini adalah pelarian saya terhadap ingar-bingar musik industri yang serba stereotype. Media TV sekarang diramaikan oleh eksistensi tiada henti band-band dengan musikalitas tanggung dan keceriaan semu boys-girls band.

Nah, bicara lagi soal Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai, kebetulan keempat band unik ini sama-sama memiliki lagu yang bertemakan Jakarta. Mari kita simak lirik-lirik kritis dalam lagu mereka. Pertama, adalah Navicula yang menceritakan keparahan kota Jakarta dalam lagu Metropolutan.

Kepalaku mau pecah
Emosi mau tumpah
Kota ini parah
Jalan macet bikin gerah
Di kaki gedung pongah
Injak siapa yang kalah

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan

S’lalu banjir tiap hujan
Asap jalan jadi awan
Di jantung Metropolutan
Orang-orang tak peduli
Alam berkonspirasi
Tenggelamkan kota ini

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan

Orang anti kata antri
Semua mau berlari
Berlarilah sampai mati

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota yang mau tenggelam

Ada Bangkutaman yang menulis ode tentang kehidupan urban di Jakarta lewat Ode Buat Kota.

Tuk suara bising di tiap jalan
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang

Na Nananana 

Di sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang

Na Nananana

Ku bernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Ku bernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Ku bernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Ku bernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan

Na Nananana

Untuk mereka yang selalu ada di televisi
Untuk mereka yang saling menipu diri
Untuk mereka yang berlari di lingkaran setan
Untuk mereka yang selalu bermain peran

Na Nananana

Lalu, dengan nuansa gelapnya, Efek Rumah Kaca menggambarkan kehidupan kota secara implisit dalam lagu Banyak Asap di Sana.

Hidup tak lagi sama konglomerasi pesta
Lapar bagai hama tak ada yang tersisa

Dedikasi dijaga berjejal di kepala
Demi sanak saudara hingga menyesakkan dada

Diskriminasi hanya untuk kita semua
Kado bersama-sama di musim perik tiba

Yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
Kosong di depan mata, banyak asap di sana

Menanam tak bisa, menangis pun sama
Gantung cita-cita di tepian kota

Seakan tak mau kalah, Seringai malah memprovokasi kita lewat lagu Membakar Jakarta. 

Rutinitas ini, kebosanan ini, begitu nyata. Tak ada rantai tak ada belenggu, tenggelam dan masih bernafas. Mendesain kehidupan, mendesain kematian, semua yang tercipta. Hanyalah ilusi, mengejar impian, hanyut dalam kemanjaan. 

Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan. 

Rutinitas ini akankah berhenti, selamatkan dirimu. Distraksi ini, kepuasan ini, kesemuan kini. Merekam keseharian, merekam keseluruhan, segala yang tertunda. Menjadikan bias, mendistorsi makna, tenggelam dalam. 

Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan. 

Mari sini, berdansa denganku, membakar Jakarta. Sekali ini, berdansa denganku, membakar Jakarta.

Saya bukanlah warga Jakarta. Saya pun belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Tapi dari cerita-cerita orang dan tayangan di media, sudah cukup kiranya untuk saya bisa merasakan kepenatan tinggal di ibukota. Lantas, entah kenapa masih banyak orang yang berbondong-bondong hijrah ke Jakarta, bermimpi memperoleh penghidupan yang layak di sana. Iming-iming bisa hidup enak di kota Jakarta telah membuai orang-orang dari daerah, dan seakan tidak pernah kapok untuk mengadu nasib di sana. Jakarta sudah menjadi magnet bagi mereka yang haus kemapanan. Mungkin juga karena roda ekonomi berputar cepat di sana, sehingga dijadikan jaminan untuk bisa mendapatkan uang banyak, maka hiduplah di Jakarta.

Tak dapat dimungkiri, banyak orang yang berhasil menuai sukses di Jakarta. Tapi, lebih banyak lagi yang menjadi korban keganasan kota metropolitan ini. Alhasil, pengangguran di mana-mana dan tindak kriminal semakin merajalela. Maka, jangan harap bisa survive bila kita tidak punya kecakapan dan modal diri yang cukup untuk tinggal di Jakarta, karena godaannya pun terlampau besar. Kalau Koes Plus punya lagu Kembali ke Jakarta, harusnya ada lagu tandingan yang berjudul Kembali ke Kampung Halaman. Sekadar untuk memotivasi orang-orang untuk tidak berhasrat lagi hijrah ke Jakarta, tapi lebih memilih tetap tinggal di daerah sendiri. Mari bangun dan majukan daerah sendiri, kawan. Seperti pesan Godbless lewat penggalan lirik dalam lagu Rumah Kita, “Haruskah kita beranjak ke kota yang penuh tanda tanya? Lebih baik di sini rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa. Semuanya ada di sini.”

Belum lagi masalah-masalah lain kota Jakarta yang semakin membelit. Sarana transportasi yang tidak ideal untuk kota sepadat itu, macet di mana-mana, banjir di kala hujan, polusi, areal hijau yang minim, gubuk-gubuk liar di bantaran sungai, premanisme, dan segepok masalah lain yang perlu segera ditangani. Maka tak heran kalau Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, Seringai, atau mungkin band-band lain mengangkat isu tentang muramnya kota yang dulu sempat bernama Batavia dan Jaccatra ini.

Dalam gelaran pilgub kali ini, saya mengagumi dan menjagokan Jokowi sebagai kandidat gubernur Jakarta yang baru. Tapi, siapa pun gubernur yang terpilih nantinya, kami berharap dia bisa menyembuhkan penyakit komplikasi akut Jakarta yang tak kunjung sembuh sekaligus membawa kota ini ke arah kemajuan yang ideal sesuai harapan warganya.

Ah, saya lupa. Ternyata Jakarta berulang tahun dua hari yang lalu. Walau terlambat, lewat tulisan ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Jakarta Ke-485. Bagaimanapun wajahmu hari ini, kami tetap bangga padamu sebagai kota yang pernah makmur di masa lalu.

Jayalah selalu, Jayakarta.
               

3 komentar:

  1. JAKARTA = RUWET
    Siapapun pimpinannya tetap harus tetap bersikap pemimpin yang bisa membawa kota yang sejuk dan nyaman bagi warganya.
    salam sejahtera bagi warga Jakarta.

    BalasHapus
  2. metropolutan, banyak macam orang disana, semrawut. kalau Jokowi jadi DKI 1, Metallica djadi diundang Kayaknya..

    BalasHapus