Saya menjadi guru tidak tetap di sebuah sekolah dasar di kota saya.
Suatu hari, saya dan rekan guru tidak tetap mengantar beberapa murid ke suatu
lomba pendidikan. Di sana kami bertemu dengan seorang guru tetap dari sekolah
lain yang cucunya bersekolah di tempat kami.
Singkat kata, dia bercerita tentang cucunya yang pernah mengadu padanya
tentang kegiatan pembelajaran Penjaskes yang memberatkan cucunya. Cucunya
menganggap praktik olah tubuh yang diberikan gurunya tidak sesuai dengan
kemampuan fisiknya. Lalu, guru tetap itu bertanya pada teman saya itu, “Siapa
pengajar Penjaskes di sekolah Anda? Apakah guru tidak tetap?”
Terlepas dari benar tidaknya isu yang dilontarkan sang cucu, kebetulan
guru Penjaskes di sekolah saya adalah guru tetap juga.
Saya agak terenyuh mendengar perkataan guru tetap itu. Sepertinya dia
menganggap bahwa setiap pembelajaran yang kurang atau tidak berkualitas itu
hanya dilakukan oleh guru-guru tidak tetap. Sebagai guru tetap yang sudah
mengajar puluhan tahun, apakah dia sudah cukup baik cara mengajarnya? Lalu
kalau seperti itu, mengapa pemerintah perlu melakukan program sertifikasi guru
secara getol dan mengucurkan dana sekian banyaknya demi program ini? Melihat
kondisi pendidikan dewasa ini, pemerintah ingin berupaya meningkatkan kinerja
para guru di negeri ini melalui program sertifikasi guru. Tapi ujung-ujungnya,
tetap saja program ini gagal di mata saya. Saya melihat sendiri bagaimana para guru
yang sudah lolos sertifikasi masih enggan meningkatkan kinerjanya.
Dari ulasan saya di atas, saya berharap kita bisa berpikir cerdas, tidak menjadi orang yang menganggap orang lain dengan sebelah mata. Dalam konteks di atas, guru tetap menganggap guru tidak tetap tidak bisa mengajar dengan baik, memaklumkan pada wali murid atau orang tua siswa bahwa guru tidak tetap adalah guru yang masih dan perlu belajar. Lantas, apakah guru tetap sudah cukup belajarnya, cukup ilmunya? Tentu saja kita semua harus tetap belajar meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, bukan?
Di akhir tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa guru tidak tetap
sebenarnya juga peduli terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Beri kami
ruang untuk bergerak, beri kami dukungan, dan beri kami apresiasi, maka kami
akan berikan kontribusi nyata untuk negeri ini.
Sebenarnya anda sudah bekerja dengan baik di sekolah anda, namun di satu sisi para senior anda kurang memberikan atensi yang baik terhadap kinerja anda dengan kata lain anda dituntut untuk melaksanakan tugas dengan ikhlas tanpa menggerutu diri sendiri. Tapi saya sarankan sebagai teman seperjuangan, sebaiknya anda ikutin naluri positif anda jangan terpancing emosi lingkungan sesaat. Sekian thank you.
BalasHapusOke, mas bro... terima kasih atas nasihat dan dukungannya. Tetap semangat dan berpikir positif...!
HapusHidup PGRI, hhahai. Orang memang masih melihat dari bungkusnya saja, bukan karena kemampuan ato nilai. kata Wamen Mendiknas "lulusan sarjana masih banyak yg berharap menjadi PNS". buat orang yg sok meremhkan orang, ANJING loe. kita memiliki otak lusinan, masih banyak cara utk bersenang2 brader. Bekerja dan berdoa, karena kita rakyat jelata. Memanusiakan manusia, itulah nilai hidup
BalasHapus