Saya
tidak akan mengulas album Maroon 5 yang bertajuk Songs About Jane. Ini
tulisan seputar lagu-lagu tentang Jakarta, Songs About Jakarta.
Belakangan
ini, saya kerap mendengarkan lagu-lagu Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca,
dan Seringai. Ini adalah pelarian saya terhadap ingar-bingar musik industri
yang serba stereotype. Media TV sekarang diramaikan oleh eksistensi
tiada henti band-band dengan musikalitas tanggung dan keceriaan semu boys-girls
band.
Nah,
bicara lagi soal Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai,
kebetulan keempat band unik ini sama-sama memiliki lagu yang bertemakan
Jakarta. Mari kita simak lirik-lirik kritis dalam lagu mereka. Pertama, adalah
Navicula yang menceritakan keparahan kota Jakarta dalam lagu Metropolutan.
Kepalaku mau pecah
Emosi mau tumpah
Kota ini parah
Emosi mau tumpah
Kota ini parah
Jalan macet bikin gerah
Di kaki gedung pongah
Injak siapa yang kalah
Di kaki gedung pongah
Injak siapa yang kalah
Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
S’lalu banjir tiap hujan
Asap jalan jadi awan
Di jantung Metropolutan
Asap jalan jadi awan
Di jantung Metropolutan
Orang-orang tak peduli
Alam berkonspirasi
Tenggelamkan kota ini
Alam berkonspirasi
Tenggelamkan kota ini
Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Orang anti kata antri
Semua mau berlari
Berlarilah sampai mati
Semua mau berlari
Berlarilah sampai mati
Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota yang mau tenggelam
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota yang mau tenggelam
Ada
Bangkutaman yang menulis ode tentang kehidupan urban di Jakarta lewat Ode
Buat Kota.
Tuk suara
bising di tiap jalan
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang
Na Nananana
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang
Na Nananana
Di
sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang
Na Nananana
Ku bernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Ku bernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Ku bernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Ku bernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan
Na Nananana
Untuk mereka yang selalu ada di televisi
Untuk mereka yang saling menipu diri
Untuk mereka yang berlari di lingkaran setan
Untuk mereka yang selalu bermain peran
Na Nananana
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang
Na Nananana
Ku bernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Ku bernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Ku bernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Ku bernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan
Na Nananana
Untuk mereka yang selalu ada di televisi
Untuk mereka yang saling menipu diri
Untuk mereka yang berlari di lingkaran setan
Untuk mereka yang selalu bermain peran
Na Nananana
Lalu,
dengan nuansa gelapnya, Efek Rumah Kaca menggambarkan kehidupan kota secara
implisit dalam lagu Banyak Asap di Sana.
Hidup tak
lagi sama konglomerasi pesta
Lapar bagai hama tak ada yang tersisa
Dedikasi dijaga berjejal di kepala
Demi sanak saudara hingga menyesakkan dada
Diskriminasi hanya untuk kita semua
Kado bersama-sama di musim perik tiba
Yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
Kosong di depan mata, banyak asap di sana
Menanam tak bisa, menangis pun sama
Gantung cita-cita di tepian kota
Lapar bagai hama tak ada yang tersisa
Dedikasi dijaga berjejal di kepala
Demi sanak saudara hingga menyesakkan dada
Diskriminasi hanya untuk kita semua
Kado bersama-sama di musim perik tiba
Yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
Kosong di depan mata, banyak asap di sana
Menanam tak bisa, menangis pun sama
Gantung cita-cita di tepian kota
Seakan
tak mau kalah, Seringai malah memprovokasi kita lewat lagu Membakar Jakarta.
Rutinitas ini, kebosanan ini, begitu nyata. Tak ada
rantai tak ada belenggu, tenggelam dan masih bernafas. Mendesain kehidupan,
mendesain kematian, semua yang tercipta. Hanyalah ilusi, mengejar impian,
hanyut dalam kemanjaan.
Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu.
Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan.
Rutinitas ini akankah berhenti, selamatkan dirimu.
Distraksi ini, kepuasan ini, kesemuan kini. Merekam keseharian, merekam
keseluruhan, segala yang tertunda. Menjadikan bias, mendistorsi makna,
tenggelam dalam.
Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu.
Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan.
Mari sini, berdansa denganku, membakar Jakarta. Sekali
ini, berdansa denganku, membakar Jakarta.
Saya
bukanlah warga Jakarta. Saya pun belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta.
Tapi dari cerita-cerita orang dan tayangan di media, sudah cukup kiranya untuk
saya bisa merasakan kepenatan tinggal di ibukota. Lantas, entah kenapa masih
banyak orang yang berbondong-bondong hijrah ke Jakarta, bermimpi memperoleh
penghidupan yang layak di sana. Iming-iming bisa hidup enak di kota Jakarta
telah membuai orang-orang dari daerah, dan seakan tidak pernah kapok untuk
mengadu nasib di sana. Jakarta sudah menjadi magnet bagi mereka yang haus kemapanan.
Mungkin juga karena roda ekonomi berputar cepat di sana, sehingga dijadikan
jaminan untuk bisa mendapatkan uang banyak, maka hiduplah di Jakarta.
Tak
dapat dimungkiri, banyak orang yang berhasil menuai sukses di Jakarta. Tapi,
lebih banyak lagi yang menjadi korban keganasan kota metropolitan ini. Alhasil,
pengangguran di mana-mana dan tindak kriminal semakin merajalela. Maka, jangan
harap bisa survive bila kita tidak punya kecakapan dan modal diri yang
cukup untuk tinggal di Jakarta, karena godaannya pun terlampau besar. Kalau
Koes Plus punya lagu Kembali ke Jakarta, harusnya ada lagu tandingan
yang berjudul Kembali ke Kampung Halaman. Sekadar untuk memotivasi
orang-orang untuk tidak berhasrat lagi hijrah ke Jakarta, tapi lebih memilih
tetap tinggal di daerah sendiri. Mari bangun dan majukan daerah sendiri, kawan.
Seperti pesan Godbless lewat penggalan lirik dalam lagu Rumah Kita, “Haruskah
kita beranjak ke kota yang penuh tanda tanya? Lebih baik di sini rumah kita
sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa. Semuanya ada di sini.”
Belum
lagi masalah-masalah lain kota Jakarta yang semakin membelit. Sarana
transportasi yang tidak ideal untuk kota sepadat itu, macet di mana-mana,
banjir di kala hujan, polusi, areal hijau yang minim, gubuk-gubuk liar di
bantaran sungai, premanisme, dan segepok masalah lain yang perlu segera
ditangani. Maka tak heran kalau Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca,
Seringai, atau mungkin band-band lain mengangkat isu tentang muramnya kota yang
dulu sempat bernama Batavia dan Jaccatra ini.
Dalam
gelaran pilgub kali ini, saya mengagumi dan menjagokan Jokowi sebagai kandidat
gubernur Jakarta yang baru. Tapi, siapa pun gubernur yang terpilih nantinya,
kami berharap dia bisa menyembuhkan penyakit komplikasi akut Jakarta yang tak
kunjung sembuh sekaligus membawa kota ini ke arah kemajuan yang ideal sesuai
harapan warganya.
Ah,
saya lupa. Ternyata Jakarta berulang tahun dua hari yang lalu. Walau terlambat,
lewat tulisan ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Jakarta Ke-485.
Bagaimanapun wajahmu hari ini, kami tetap bangga padamu sebagai kota yang
pernah makmur di masa lalu.
Jayalah
selalu, Jayakarta.
JAKARTA = RUWET
BalasHapusSiapapun pimpinannya tetap harus tetap bersikap pemimpin yang bisa membawa kota yang sejuk dan nyaman bagi warganya.
salam sejahtera bagi warga Jakarta.
metropolutan, banyak macam orang disana, semrawut. kalau Jokowi jadi DKI 1, Metallica djadi diundang Kayaknya..
BalasHapusNice Gan
BalasHapus