Sabtu, 23 Juni 2012

Time is Molor

Suatu ketika, seorang bocah merengek pada ibunya, meminta agar cepat diantarkan ke playgroup karena takut datang terlambat. Di lain waktu, seorang siswa TK menangis enggan masuk kelas karena terlambat datang ke sekolahnya. Pun demikian dengan murid-murid SD yang konsisten datang ke sekolah jauh lebih awal daripada gurunya. Atau mereka datang tepat waktu ke kegiatan ekskul dibandingkan pembina ekskulnya. Begitulah anak-anak, mereka cenderung datang tepat waktu.

Beberapa contoh karakter anak, menurut pandangan orang dewasa, mereka kurang atau tidak paham atas apa yang dilakukannya, melakukan sesuatu seenak hati, dan belum bisa membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Nah, kalau paradigma itu yang dibangun, berarti sikap dan perilaku tepat waktu anak-anak itu hanya sekadar ketidakpahaman atas apa yang dilakukannya, dilakukan seenak hati, dan karena mereka tidak bisa membedakan baik dan buruknya sesuatu yang dilakukan, dong? Terserah apa penilaian kamu... :)

Karena kita harus akui, setelah kita beranjak dewasa atau sudah berusia tua, kebiasaan tepat waktu sudah jarang kita lakukan lagi. Kalau orang dewasa sudah paham atas apa yang dilakukannya, dan sudah bisa membedakan baik buruknya segala sesuatu yang dilakukan, maka kebiasaan molor waktu adalah baik bagi orang dewasa, bukankah begitu? Hmm... setidaknya itu yang terjadi di sekitar saya. Orang lebih suka memolor-molor waktu ketika hendak menghadiri pertemuan atau acara yang melibatkan banyak orang. Hal itu dijadikan persepsi massive. Untuk apa datang tepat waktu? Toh, orang-orang juga akan datang molor, iya kan? Akhirnya, satu sama lain saling mengulur-ulur waktu sehingga suatu acara tidak berlangsung sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dan anehnya, itu terjadi berulang kali.

Seperti kata Dahlan Iskan, ada pembunuhan akal sehat secara besar-besaran di negeri ini. Misalnya, para pengguna kendaraan memilih menggunakan jalan tol agar tidak terjebak macet. Tapi yang terjadi, untuk masuk tol saja malah harus mengantre lama. Ini 'kan tidak sejalan dengan akal sehat. Kalau ini dibiarkan terus-menerus tentu akan membuat cara berpikir kita tidak sehat. Itu mungkin yang menyebabkan Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol Semanggi menuju Slipi, Jakarta Barat dan membiarkan banyak kendaraan masuk tol itu secara gratis, setelah mengetahui terjadi kemacetan di pintu tol itu karena salah satu loket penjaga kosong.

Hal serupa terjadi ketika saya menghadiri rapat suatu event. Saya datang tepat waktu sementara anggota lainnya belum datang. Sama juga ketika saya datang on time pada suatu seminar, tapi ternyata acaranya belum mulai. Atau ketika saya harus menunggu mobil rental yang telat datang hampir setengah jam padahal jam keberangkatan sudah ditentukan. Di lain waktu, saya pernah menunggu setengah jam di depan studio musik karena penjaga studionya belum datang. Saya juga harus menunggu teman band yang belum datang, padahal kami harus masuk studio sesuai jadwal yang disepakati. Akhirnya, segala sesuatu yang sudah kita rencanakan akan berjalan lancar, lagi-lagi menjadi molor akibat sikap indisipliner ini.

Tapi begitulah realitanya. Kita menjadi maklum dan seakan-akan dipaksa menyesuaikan dengan kondisi yang ada, kalau tidak mau dianggap sok disiplin. Mungkin karena sekarang jaman edan, semua serba terbalik. Logika dalam memandang persepsi ini pun jadi terbolak-balik. Yang salah itu wajar dan yang benar itu aneh. Kita pun ikut terseret dalam lingkaran ketidakberesan ini. Time is Money tidak berlaku lagi sekarang, justru yang lebih populer adalah Time is Molor. :)

Jadi, nikmati saja... .
Tertawakan saja kondisi absurd ini.
Hahaha... .

1 komentar:

  1. kata terlambat alias molor sangat populer di masyarakat. saya pribadi merupakan salah satu penikmat kata tersebut. dengan kata lain MOLOR sama dengan KESENANGAN. maka hal tersebut harus dinikmati boz. kalau anda bertanya Kenapa? anda bisa menjawabnya sendiri bukan? sekian mator tenkyu...
    salam sejahtera bagi mereka yang tidak molor!!!

    BalasHapus