Selasa, 05 Juni 2012

Review: Slank, Dewa 19, dan Gigi

Pada tulisan saya kali ini, saya ingin me-review tiga band besar yang pernah berjaya di era 90-an, yakni Slank, Dewa 19, dan Gigi. Di era 2000-an pun, mereka masih eksis di blantika musik Indonesia, kecuali Dewa 19 yang memilih vakum sepeninggal Once, vokalisnya.

Mengutip ucapan Soleh Solihun, seorang jurnalis musik yang juga stand-up comedian, review itu bersifat subyektif. Isi tulisannya berdasarkan pandangan atau penilaian pribadi penulisnya terhadap topik tertentu. Kalau ada musisi yang tidak suka dengan review seorang penulis, merasa apa yang dinilai terhadap karyanya tidak obyektif, berarti dia salah persepsi memandang sebuah review.

Back to the topic, ternyata tiga band ini cukup banyak mendapat tempat di hati para penikmat musik. Dari sekian banyak band yang tumbuh subur kala itu, bak jamur di musim hujan, tiga band ini paling sering disorot media. Maka, tak heran jika para awak band-band ini banyak dikenal publik. Selain lagu-lagunya yang everlasting, musiknya juga berkualitas. Genre musik yang diusung mereka, masing-masing bisa dikatakan tidak lekang ditelan waktu. Di saat band-band sejamannya sudah gulung tikar, tiga band ini tetap digaet music label dan album-albumnya tetap sukses di pasaran.

Jaman saya masih SD, TVRI sering memutar video-video klip Slank, Dewa 19, dan Gigi. Dari situ mungkin anak-anak seusia saya pada waktu itu sudah mulai mengenal lagu-lagu mereka, dan tentu saja mulai mengidolakan mereka. Beranjak usia SMP, saluran TV swasta juga banyak yang menampilkan acara-acara video klip musik, semacam Video Musik Indonesia, Zimfoni, Intro, dan sebagainya. Maka, makin banyak pula video-video klip yang ditampilkan dari tiap-tiap album mereka. Makanya, ketika MTV Classic Indonesia menayangkan video-video klip jadul band-band itu, acara itu seakan-akan menjadi mesin waktu yang membawa kita pada masa lampau dunia musik 90-an. 

Di masa SMU, saya sempat menjadi slanker fanatik. Di panggung-panggung festival musik, lagu-lagu Slank-lah yang kami mainkan, istilahnya Slank cover-lah, haha... . Menginjak kuliah, saya sempat juga menjadi baladewa dan gigikita. Setiap ada kesempatan nge-jamming di studio atau live on air di radio, kami memainkan lagu-lagu Dewa 19 dan Gigi. Tak ketinggalan koleksi kaset pita band-band ini cukup lengkap terpajang rapi di rak kaset saya, maklum jaman itu masih menggunakan kaset pita. Bahkan, beberapa majalah musik yang mengupas sepak terjang band-band jagoan ini masih saya simpan, meskipun ada sebagian yang hilang entah kemana dibawa beberapa teman saya.

Saya harus akui bahwa tiga band ini cukup memberikan warna bermusik saya secara mainstream. Kata teman saya yang penyiar radio, musikalitas sebuah band itu bisa kita lihat dan dengar sampai pada tiga album pertama, selebihnya geregetnya biasa-biasa saja. Mungkin argumen teman saya itu ada benarnya. Menurut saya kualitas musikalitas Slank ada di lima album pertamanya, yaitu: Suit... Suit... He... He... Gadis Sexy (1990), Kampungan (1991), Piss! (1993), Generasi Biru (1995), dan Minoritas (1996). Dewa 19 pada empat album pertamanya, yaitu: Dewa 19 (1992), Format Masa Depan (1994), Terbaik Terbaik (1995), dan Pandawa Lima (1997). Gigi pada tiga album pertamanya, yaitu: Angan (1994), Dunia (1995), 3/4 (1996).

Pada album-album berikutnya, saya menilai perjalanan karir bermusik mereka biasa-biasa saja. Mungkin saja itu terjadi karena adanya perubahan atau pergantian formasi. Bukannya saya meragukan sense of music para personil band yang baru, tapi saya lebih suka formasi awal mereka, sepertinya lebih dahsyat dan menelorkan hits-hits abadi. Mungkin karena mereka membangun band itu benar-benar berangkat dari bawah. Jadi, chemistry-nya lebih mengalir.
Sebut saja Slank yang masih diawaki Kaka (Vokal), Pay (Gitar), Bongky Ismail (Bas), Indra Qadarsih (Kibor), dan Bimbim (Drum). Lalu, Dewa 19 yang masih diperkuat Ari Lasso (Vokal), Andra Ramadhan (Gitar), Erwin Prasetya (Bas), Ahmad Dhani (Kibor), dan Wong Aksan (Drum), pengganti Wawan Abi, drummer pertama mereka. Sekadar catatan, sebelum hadirnya Aksan, kekosongan drummer pernah diisi oleh Ronald Fristianto (ex-Gigi) dan Rere (ex-Grass Rock) sebagai additional players.
Kemudian Gigi yang masih beranggotakan Armand Maulana (Vokal), Dewa Budjana (Gitar), Aria Baron Arafat (Gitar), Thomas Ramdhan (Bas), dan Ronald Fristianto (Drum).

Lantas, siapa yang bisa memungkiri jika mendengar beberapa lagu Slank, Dewa, dan Gigi, dia tidak akan bersenandung. Begitu kuatnya alunan lagu-lagu mereka mengisi ruang-ruang musik 90-an, bahkan 2000-an, atau nanti barangkali lagu-lagu mereka akan menjadi lagu-lagu nostalgia pengganti lagu-lagu era 60-an, 70-an, dan 80-an, Who knows? 

Oke, sekian dulu review saya mengenai tiga band papan atas Indonesia ini. Kalau mengulasnya kepanjangan, saya jadi tidak enak hati pada Bens Leo, Denny Sakrie, dan Remy Soetansyah, sok jago mengamati soal musik, hihi... .
Mungkin kamu sependapat dengan review saya, atau mungkin juga tidak, toh itu bukan menjadi masalah. Seperti kata Kang Soleh di atas, namanya saja review. Jadi, memang tidak obyektif, bukan? :)

8 komentar:

  1. Slank itu legenda hidup, DEWA buyar, GIGI!!! tanyakan yg bawa mic sendiri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dewa buyar tp secara musik san gebukan drum nya masih unggul dewa bro...apalagi vocalnya.... Susah orang bisa niru lagu n musik nya dewa bro....
      U g ngerti musik aja pke ngwjelekin dewa

      Hapus
    2. Kalau ngeliat band yg legend never die, liat gigi

      Hapus
  2. skill&kualitas ya DEWA dong,klo style emg slank. GIGI gak masuk itungan.mendingan PADI

    BalasHapus
  3. gigi the best dari tahun 93 smpe sekarang, buktinya masih eksis sampai sekarang

    jangan asal ngomong. fitra..

    sok ngerti musik lo..

    BalasHapus
  4. gigi the best dari tahun 93 smpe sekarang, buktinya masih eksis sampai sekarang

    jangan asal ngomong. fitra..

    sok ngerti musik lo..

    BalasHapus
  5. Ahhh, tai kucing lo semua
    Gw FANS yang tau kualitas MUSIK, Idola lo semua blm ada apa2'nya.
    Gw Lebih suka POWER METAL
    Ngarti ga lo

    BalasHapus