Pada Hari Jadi-nya yang ke-745, Sumenep punya gawe akbar: Makan Campor
Gratis 1.000 piring. Campor adalah makanan tradisional penduduk Sumenep. Acara
itu pun masuk rekor MURI tahun 2014. Acara tersebut diselenggarakan pada hari
Minggu pagi (09/11), digelar di sepanjang Jalan Diponegoro, Jalan Halim Perdana Kusuma, dan Jalan Panglima
Sudirman. Tenda-tenda berisi hidangan campor berjejer rapi
di tengah jalan-jalan itu, membentuk deretan panjang dari barat sampai timur,
juga dari utara sampai selatan. Pendiri tenda-tenda itu adalah para instansi
pemerintah yang ada di Sumenep.
Saya berada di Jalan Diponegoro waktu itu, menunggu gratisan campor
dari tenda sebuah instansi pemerintah tempat teman saya bekerja. Menurut saya,
tidak ada yang unik dan istimewa dari perhelatan akbar itu. Hanya sekadar makan
bareng saja.
Bagi saya, yang unik dan istimewa adalah seorang wanita tua yang
berada di tengah keramaian pesta campor itu. Wanita tua pemungut kardus dan
botol bekas. Senjatanya adalah karung goni besar di pundaknya. Di saat
orang-orang sibuk makan campor, dia asyik memungut sampah botol di sepanjang
jalan. Langkahnya gesit dan penuh semangat mencari sampah. Ketika menemukan
botol bekas, dia langsung melemparnya ke karung goninya.
Peduli apa dia dengan campor gratis. Bagi dia, botol dan kardus lebih
berharga untuk ditukar dengan sejumlah uang nantinya. Dia pun tidak meminta
sepiring campor gratis untuk sarapan paginya. Nyaris tidak ada yang
memerhatikan kesibukan dia mengais sampah. Orang-orang sibuk sendiri dengan
euforia campor gratisnya.
Saya melihat wanita tua itu dari trotoar jalan. Saya meminta teman
saya untuk memberikan sepiring campor pada wanita itu. Ketika disuguhi campor,
dia tersenyum senang. Terenyuh hati saya.
Wahai para pemimpin, yang pantas untuk mendapatkan
sepiring campor gratis adalah dia. Dia mewakili rakyat jelata yang
sesungguhnya. Dia dan rakyat-rakyat jelata lainnya berhak untuk diperhatikan,
walau cuma sekadar diberi sepiring campor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar