Suatu petang dalam sebuah perjalanan, saya berhenti di sebuah masjid
untuk melaksanakan salat maghrib. Setelah mengambil wudu, saya bergegas masuk
masjid melewati segerombolan bocah yang sedang mengaji (baca: membaca Alquran).
Mereka duduk mengitari ustaz mereka.
Selesai salat, saya melihat dua bocah sedang berkejar-kejaran di tepi
ruangan masjid. Seketika itu juga dua bocah itu dipanggil ustaz. Ustaz itu
meminta mereka duduk di dekatnya, lalu menjewer telinga kedua bocah itu. Alhasil,
mereka merengek kesakitan dengan ekspresi muka yang lucu.
Melihat kejadian itu, saya tersenyum. Pemandangan itu membuat saya
mengilas balik pengalaman masa kecil dulu. Masa di mana ketika saya dan
teman-teman mendapat hukuman serupa ketika membandel atau membuat kegaduhan di
langgar dekat rumah, tempat saya belajar mengaji dulu.
Mungkin pada zaman sekarang, kita akan jarang menemukan kejadian
serupa. Dalam dunia pendidikan saat ini, guru maupun ustaz tidak diperbolehkan
lagi memberikan hukuman fisik karena dianggap akan mengganggu perkembangan
mental peserta didik.
Tapi, saya akan melihat kejadian ini dari sisi lain.
Bisa saja menjewer termasuk salah satu hukuman fisik, tapi saya atau
mungkin dua bocah itu tidak merasa dendam pada si penjewer. Ada rasa menerima
ketika mereka dijewer. Sakit atau perih di telinga akibat jeweran itu pun tidak
terasa benar-benar sakit di hati mereka. Bahkan setelah dijewer, mereka masih sempat
ketawa-ketiwi.
Ada rasa sayang dan tulus sang ustaz ketika membimbing bocah-bocah itu
belajar mengaji. Mungkin karena rasa itu pula yang membuat dua bocah itu tetap
tersenyum bahkan tertawa ketika dijewer oleh sang ustaz.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar