Senin, 22 Desember 2014

Persembahan Cinta ala Silver Five


Kali ini, saya akan mengulas acara rilis album perdana Silver Five, band pop-indie Sumenep, yang bertajuk Persembahan Cinta. Acaranya sih pada Oktober 2013 lalu, entah karena sok sibuk atau malas menulis, saya baru sempat menulisnya sekarang. Padahal saya sudah berjanji pada Hendra (kibordis) untuk menulisnya dalam waktu dekat.

Menurut saya, Silver Five sangat percaya diri. Band yang digawangi Dimas (vocal), ... (guitar), Ari (bass), Hendra (keyboard), dan ... (Drums) ini membuat sebuah acara rilis album secara live. Acaranya digelar di Queis Cafe and Resto, sebuah kafe terkenal di Sumenep. Kafe itu sudah dipesan jauh-jauh hari oleh Hendra untuk mewujudkan idenya itu.

Untuk sekelas band lokal di sebuah kota kecil, saya sempat heran ketika Hendra menawarkan tiket masuk acara itu pada saya. Maklum, saya awam dengan Silver Five, tidak begitu tahu dengan sepak terjang band ini di kancah musik Sumenep.

Pikir saya, bagaimana mungkin orang akan membeli dan datang ke sebuah acara launching album band lokal? Kebanyakan orang kan berpikir cheap bastard, tidak begitu antusias dengan acara yang bertiket. Jangankan band lokal, pertunjukan yang menampilkan artis atau band terkenal saja, orang Sumenep masih berpikir dua kali untuk membeli tiket, kecuali yang memang nge-fans dengan artis atau band terkenal tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya beli tiket itu. Saya penasaran ingin menonton acara ini. Bahkan saya menawarkan diri untuk membantu dia melariskan tiketnya.

Iseng-iseng saya bertanya pada teman-teman tentang Silver Five. Ternyata, dari sekian banyak band yang eksis di Sumenep, Silver Five punya cukup banyak penggemar. Lagu-lagunya pun banyak tersimpan di playlist remaja-remaja belia kala itu. Wah, pantas saja si Hendra berani menjual tiket masuk untuk acaranya.

Seminggu sebelum acara itu, Hendra tampak sibuk. Sepertinya dia yang mengurus segala tetek bengek persiapan acara. Bahkan dia meminta saya untuk memberikan ide tambahan agar acaranya sesuai dengan konsep acara. Saya pun mengajak teman saya, Dedy, untuk membuatkan rundown. Lalu kami usulkan rundown itu pada Hendra. Tapi keesokan harinya, Hendra membatalkan rundown kami karena dia sudah terlanjur menerima kesepakatan rundown dari pemilik Queis Cafe. Tak masalah.

Akhirnya, acara yang ditunggu-tunggu itu pun digelar juga.

Di pintu masuk, saya kaget dengan banyaknya penonton yang memadati tempat duduk kafe. Jika parameter kesuksesan suatu acara diukur dari jumlah penonton, maka Silver Five sukses membuat acara. Saya sudah tidak tahan untuk segera masuk ke venue.

Silver Five membuka acara dengan lagu rancak, Persembahan Cinta (tema launching), talkshow tentang lagu2nya dan terbentuknya band, doorprize, nyanyi sambil ditanya asal cerita lagu2nya, 8 lagu

Setelah menonton keseluruhan acara, saya agak kecewa. Ternyata acara ini tidak pure acara rilis album. Saya masih bisa menerima ketika di tengah acara, tiba-tiba ada sesi perkenalan keluarga masing-masing personil, dan ditambah lagi aksi duet Dimas dengan adiknya, Rifa. Tapi setelah itu, pihak kafe malah menyisipkan acara lain, seperti pertunjukan sulap dan games. Akhirnya banyak penonton yang merasa jenuh. Karena mungkin, ekspektasi penonton datang ke acara ini semata-mata hanya ingin menonton live Silver Five saja.

Saya memilih untuk tetap fokus menikmati penampilan Silver Five.

Lagu-lagu yang dibawakan band ini cukup easy listening dan ear-catching. Mereka bermain di ranah pop dengan suara vokal Dimas yang agak mirip Sammy Simorangkir. Formula musik seperti ini memang mudah memikat selera musik anak remaja pada umumnya.

Selain wajah mereka memang ganteng-ganteng, mereka juga cukup good looking di atas panggung. Paduan jas hitam, dasi merah, dan jins memberikan kesan elegan pada penampilan mereka. Panggung pun ditata dengan apik dengan pencahayaan yang cukup, tidak berlebihan. Di belakang panggung, ada latar berupa poster personil band. Di sisi kiri panggung, ada proyektor yang menampilkan video klip Silver Five dan profil tiap personil.

Usai acara, saya menghampiri mereka di belakang panggung. Saya jabat tangan mereka dengan rasa senang dan puas, “Selamat, teman-teman...!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar