Minggu, 24 Juni 2012

Songs About Jane-karta

Saya tidak akan mengulas album Maroon 5 yang bertajuk Songs About Jane. Ini tulisan seputar lagu-lagu tentang Jakarta, Songs About Jakarta.

Belakangan ini, saya kerap mendengarkan lagu-lagu Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai. Ini adalah pelarian saya terhadap ingar-bingar musik industri yang serba stereotype. Media TV sekarang diramaikan oleh eksistensi tiada henti band-band dengan musikalitas tanggung dan keceriaan semu boys-girls band.

Nah, bicara lagi soal Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, dan Seringai, kebetulan keempat band unik ini sama-sama memiliki lagu yang bertemakan Jakarta. Mari kita simak lirik-lirik kritis dalam lagu mereka. Pertama, adalah Navicula yang menceritakan keparahan kota Jakarta dalam lagu Metropolutan.

Kepalaku mau pecah
Emosi mau tumpah
Kota ini parah
Jalan macet bikin gerah
Di kaki gedung pongah
Injak siapa yang kalah

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan

S’lalu banjir tiap hujan
Asap jalan jadi awan
Di jantung Metropolutan
Orang-orang tak peduli
Alam berkonspirasi
Tenggelamkan kota ini

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan

Orang anti kata antri
Semua mau berlari
Berlarilah sampai mati

Aku terjebak di sini
Hey, aku ada di dalam kota Metropolutan
Hey, aku ada di dalam kota yang mau tenggelam

Ada Bangkutaman yang menulis ode tentang kehidupan urban di Jakarta lewat Ode Buat Kota.

Tuk suara bising di tiap jalan
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang

Na Nananana 

Di sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang

Na Nananana

Ku bernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Ku bernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Ku bernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Ku bernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan

Na Nananana

Untuk mereka yang selalu ada di televisi
Untuk mereka yang saling menipu diri
Untuk mereka yang berlari di lingkaran setan
Untuk mereka yang selalu bermain peran

Na Nananana

Lalu, dengan nuansa gelapnya, Efek Rumah Kaca menggambarkan kehidupan kota secara implisit dalam lagu Banyak Asap di Sana.

Hidup tak lagi sama konglomerasi pesta
Lapar bagai hama tak ada yang tersisa

Dedikasi dijaga berjejal di kepala
Demi sanak saudara hingga menyesakkan dada

Diskriminasi hanya untuk kita semua
Kado bersama-sama di musim perik tiba

Yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
Kosong di depan mata, banyak asap di sana

Menanam tak bisa, menangis pun sama
Gantung cita-cita di tepian kota

Seakan tak mau kalah, Seringai malah memprovokasi kita lewat lagu Membakar Jakarta. 

Rutinitas ini, kebosanan ini, begitu nyata. Tak ada rantai tak ada belenggu, tenggelam dan masih bernafas. Mendesain kehidupan, mendesain kematian, semua yang tercipta. Hanyalah ilusi, mengejar impian, hanyut dalam kemanjaan. 

Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan. 

Rutinitas ini akankah berhenti, selamatkan dirimu. Distraksi ini, kepuasan ini, kesemuan kini. Merekam keseharian, merekam keseluruhan, segala yang tertunda. Menjadikan bias, mendistorsi makna, tenggelam dalam. 

Redefinisi perbudakan, rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan, rasakan udara kebebasan. 

Mari sini, berdansa denganku, membakar Jakarta. Sekali ini, berdansa denganku, membakar Jakarta.

Saya bukanlah warga Jakarta. Saya pun belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Tapi dari cerita-cerita orang dan tayangan di media, sudah cukup kiranya untuk saya bisa merasakan kepenatan tinggal di ibukota. Lantas, entah kenapa masih banyak orang yang berbondong-bondong hijrah ke Jakarta, bermimpi memperoleh penghidupan yang layak di sana. Iming-iming bisa hidup enak di kota Jakarta telah membuai orang-orang dari daerah, dan seakan tidak pernah kapok untuk mengadu nasib di sana. Jakarta sudah menjadi magnet bagi mereka yang haus kemapanan. Mungkin juga karena roda ekonomi berputar cepat di sana, sehingga dijadikan jaminan untuk bisa mendapatkan uang banyak, maka hiduplah di Jakarta.

Tak dapat dimungkiri, banyak orang yang berhasil menuai sukses di Jakarta. Tapi, lebih banyak lagi yang menjadi korban keganasan kota metropolitan ini. Alhasil, pengangguran di mana-mana dan tindak kriminal semakin merajalela. Maka, jangan harap bisa survive bila kita tidak punya kecakapan dan modal diri yang cukup untuk tinggal di Jakarta, karena godaannya pun terlampau besar. Kalau Koes Plus punya lagu Kembali ke Jakarta, harusnya ada lagu tandingan yang berjudul Kembali ke Kampung Halaman. Sekadar untuk memotivasi orang-orang untuk tidak berhasrat lagi hijrah ke Jakarta, tapi lebih memilih tetap tinggal di daerah sendiri. Mari bangun dan majukan daerah sendiri, kawan. Seperti pesan Godbless lewat penggalan lirik dalam lagu Rumah Kita, “Haruskah kita beranjak ke kota yang penuh tanda tanya? Lebih baik di sini rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa. Semuanya ada di sini.”

Belum lagi masalah-masalah lain kota Jakarta yang semakin membelit. Sarana transportasi yang tidak ideal untuk kota sepadat itu, macet di mana-mana, banjir di kala hujan, polusi, areal hijau yang minim, gubuk-gubuk liar di bantaran sungai, premanisme, dan segepok masalah lain yang perlu segera ditangani. Maka tak heran kalau Navicula, Bangkutaman, Efek Rumah Kaca, Seringai, atau mungkin band-band lain mengangkat isu tentang muramnya kota yang dulu sempat bernama Batavia dan Jaccatra ini.

Dalam gelaran pilgub kali ini, saya mengagumi dan menjagokan Jokowi sebagai kandidat gubernur Jakarta yang baru. Tapi, siapa pun gubernur yang terpilih nantinya, kami berharap dia bisa menyembuhkan penyakit komplikasi akut Jakarta yang tak kunjung sembuh sekaligus membawa kota ini ke arah kemajuan yang ideal sesuai harapan warganya.

Ah, saya lupa. Ternyata Jakarta berulang tahun dua hari yang lalu. Walau terlambat, lewat tulisan ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Jakarta Ke-485. Bagaimanapun wajahmu hari ini, kami tetap bangga padamu sebagai kota yang pernah makmur di masa lalu.

Jayalah selalu, Jayakarta.
               

Sabtu, 23 Juni 2012

Time is Molor

Suatu ketika, seorang bocah merengek pada ibunya, meminta agar cepat diantarkan ke playgroup karena takut datang terlambat. Di lain waktu, seorang siswa TK menangis enggan masuk kelas karena terlambat datang ke sekolahnya. Pun demikian dengan murid-murid SD yang konsisten datang ke sekolah jauh lebih awal daripada gurunya. Atau mereka datang tepat waktu ke kegiatan ekskul dibandingkan pembina ekskulnya. Begitulah anak-anak, mereka cenderung datang tepat waktu.

Beberapa contoh karakter anak, menurut pandangan orang dewasa, mereka kurang atau tidak paham atas apa yang dilakukannya, melakukan sesuatu seenak hati, dan belum bisa membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Nah, kalau paradigma itu yang dibangun, berarti sikap dan perilaku tepat waktu anak-anak itu hanya sekadar ketidakpahaman atas apa yang dilakukannya, dilakukan seenak hati, dan karena mereka tidak bisa membedakan baik dan buruknya sesuatu yang dilakukan, dong? Terserah apa penilaian kamu... :)

Karena kita harus akui, setelah kita beranjak dewasa atau sudah berusia tua, kebiasaan tepat waktu sudah jarang kita lakukan lagi. Kalau orang dewasa sudah paham atas apa yang dilakukannya, dan sudah bisa membedakan baik buruknya segala sesuatu yang dilakukan, maka kebiasaan molor waktu adalah baik bagi orang dewasa, bukankah begitu? Hmm... setidaknya itu yang terjadi di sekitar saya. Orang lebih suka memolor-molor waktu ketika hendak menghadiri pertemuan atau acara yang melibatkan banyak orang. Hal itu dijadikan persepsi massive. Untuk apa datang tepat waktu? Toh, orang-orang juga akan datang molor, iya kan? Akhirnya, satu sama lain saling mengulur-ulur waktu sehingga suatu acara tidak berlangsung sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dan anehnya, itu terjadi berulang kali.

Seperti kata Dahlan Iskan, ada pembunuhan akal sehat secara besar-besaran di negeri ini. Misalnya, para pengguna kendaraan memilih menggunakan jalan tol agar tidak terjebak macet. Tapi yang terjadi, untuk masuk tol saja malah harus mengantre lama. Ini 'kan tidak sejalan dengan akal sehat. Kalau ini dibiarkan terus-menerus tentu akan membuat cara berpikir kita tidak sehat. Itu mungkin yang menyebabkan Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol Semanggi menuju Slipi, Jakarta Barat dan membiarkan banyak kendaraan masuk tol itu secara gratis, setelah mengetahui terjadi kemacetan di pintu tol itu karena salah satu loket penjaga kosong.

Hal serupa terjadi ketika saya menghadiri rapat suatu event. Saya datang tepat waktu sementara anggota lainnya belum datang. Sama juga ketika saya datang on time pada suatu seminar, tapi ternyata acaranya belum mulai. Atau ketika saya harus menunggu mobil rental yang telat datang hampir setengah jam padahal jam keberangkatan sudah ditentukan. Di lain waktu, saya pernah menunggu setengah jam di depan studio musik karena penjaga studionya belum datang. Saya juga harus menunggu teman band yang belum datang, padahal kami harus masuk studio sesuai jadwal yang disepakati. Akhirnya, segala sesuatu yang sudah kita rencanakan akan berjalan lancar, lagi-lagi menjadi molor akibat sikap indisipliner ini.

Tapi begitulah realitanya. Kita menjadi maklum dan seakan-akan dipaksa menyesuaikan dengan kondisi yang ada, kalau tidak mau dianggap sok disiplin. Mungkin karena sekarang jaman edan, semua serba terbalik. Logika dalam memandang persepsi ini pun jadi terbolak-balik. Yang salah itu wajar dan yang benar itu aneh. Kita pun ikut terseret dalam lingkaran ketidakberesan ini. Time is Money tidak berlaku lagi sekarang, justru yang lebih populer adalah Time is Molor. :)

Jadi, nikmati saja... .
Tertawakan saja kondisi absurd ini.
Hahaha... .

Retorika

Ketika nge-host di Radioshow TV One, Sandy pernah berkelakar seperti ini, "Kalau kita nunggu tindakan pemerintah, kayak nungguin bus di busway, lama banget. Giliran busnya dateng, malah sudah penuh penumpang... ." Mungkin benar juga analogi ala Sandy tersebut, inilah realita. Banyak orang skeptis terhadap tindakan pemerintah. Problem layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan masih belum dapat terakomodir secara maksimal. Sepertinya tugas-tugas yang harus dikerjakan pemerintah terlampau banyak dan dibutuhkan proses panjang untuk menyelesaikannya.

Yah, daripada kita mengkritik tiada habis, lebih baik kita berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara ini. Tidak usah jauh-jauh, untuk lingkungan sekitar saja dulu. Apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita? Contoh kecil, apakah kita sudah konsisten menjaga kebersihan lingkungan kita? Bisakah kita membuang sampah pada tempatnya meskipun hanya bungkusan permen atau puntung rokok? Atau contoh lain, bisakah kita ajeg mematuhi tata tertib lalu lintas, tidak menerobos jalan ketika lampu merah menyala dan tetap setia menunggu lampu hijau menyala, meskipun suasana jalan raya sedang lengang dan tidak ada polantas di sana?

Lalu, untuk apa kita bersungut-sungut mencerca pemerintah kalau kita sendiri belum membenahi diri kita sendiri. Kata Navicula, band indie dari Bali, dalam lirik Over Konsumsi, "Selamatkan diri kita dari diri kita sendiri." Ini hanya pendapat subjektif saya saja, sepertinya lewat lirik tersebut, Navicula ingin mengajak kita untuk merefleksi diri.

Sebenarnya mengkritik boleh-boleh saja, sebagai bentuk kontrol kita terhadap kebijakan pemerintah. Tapi, kita juga harus mengkritik diri kita juga, toh. Apa gunanya mahasiswa menggelar demo, mengkritik kebijakan pemerintah? Di sisi lain, mereka masih suka bolos kuliah, mabuk-mabukan, nge-drug, dan freesex. Atau jangan-jangan setelah mereka sudah tua nanti malah ikut-ikutan korup. Malah seperti lagu Distorsi-nya Ahmad Band, "Yang muda mabok. Yang tua korup. Mabok terus korup terus. Jayalah negeri ini. Merdeka!!"

Ya, sudahlah... Biarlah pemerintah mengurus negara ini dengan caranya sendiri. Toh, jika tidak mengemban amanat itu dengan baik, mereka pasti dapat karmanya, iya kan? Kita sebagai rakyat jelata, lakukan saja sesuatu yang berarti bagi lingkungan sekitar, sekecil apapun.

Perubahan pasti akan terjadi.
Keep faith on process...!!!

Kamis, 07 Juni 2012

Mengutip Sang Motivator

Mario Teguh pernah menulis ini di status Facebook-nya. Sebuah quote yang sudah cukup lama tersimpan di catatan ponsel saya. Berikut ini kutipannya:

Apa tingkat pendidikan yang tinggi menjamin sukses?
Bagaimana dengan yang tidak pernah sekolah, apa bisa sukses?

Satu, sesungguhnya tidak ada yang bisa menjamin apapun, kecuali dengan ijin Tuhan.
Dua, orang yang berpendidikan belum tentu sukses, tapi sudah ditinggikan derajatnya.
Tiga, orang tanpa pendidikan tetap bisa berhasil, meskipun lebih sulit.

Berpendidikan tetap lebih baik.

Salam Super, Pak Mario... .

Proposal Diri

Apakah kamu tahu Elang Gumilang? Iya, dia seorang entrepreneur muda yang sukses mengembangkan proyek perumahan untuk rakyat kecil pada usia 25 tahun. Di saat banyak developer membangun perumahan untuk kalangan menengah ke atas, justru Elang membangun perumahan untuk rakyat miskin. Apa rahasia suksesnya? Tentu saja kerja keras dan strategi yang mantap. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Ada faktor-faktor alami yang luput dari perhatian orang, yang membawanya pada pintu kesuksesan. 

Dalam suatu interview di Radioshow TV One beberapa bulan yang lalu, Elang berkata kepada Sandy dan Buluk bahwa dia menggunakan dirinya sebagai proposal untuk memperkenalkan bisnisnya. Secara teknis, proposal biasanya bersifat tertulis yang menggambarkan job description suatu usaha atau bisnis. Tapi, menurutnya ada proposal lain yang jauh lebih penting, yaitu proposal diri. Elang bercerita waktu pertama kali memulai proyeknya, dia sama sekali tidak mempunyai modal. Meskipun demikian, dia punya nilai tawar yang menjanjikan, yakni kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab. Di mata teman-temannya, dia memang dinilai jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan setiap bisnisnya. Karena kepercayaan itu, akhirnya beberapa teman bersedia memodali proyeknya. Singkat cerita, proyeknya pun berhasil.

Kawan, coba kita renungkan betapa dahsyatnya kekuatan nilai kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab. Dalam sebuah pertemanan, nilai-nilai itu harus kita pelihara. Bagaimana mungkin teman akan bekerjasama dengan kita kalau kita tidak jujur? Dan, bagaimana mungkin teman akan percaya pada bisnis kita kalau kita tidak punya rasa tanggung jawab?

Sungguh sangat disayangkan jika jaringan pertemanan kita yang cukup luas, akhirnya tali-tali pengikatnya putus satu-persatu akibat kita lalai menjaga nilai-nilai tersebut. Maka dari itu, seyogyanya kita sebagai makhluk sosial harus mampu menjaga tali pertemanan yang sudah kuat agar kita bisa membantu satu sama lain. Sudah semestinya pertemanan itu saling menguntungkan, bukan malah ada yang merasa dirugikan. Seperti simbiosis mutualisme, bukan simbiosis parasitisme. Seperti apa yang pernah ditulis Lily Wibisono di Intisari, bagaimana kita akan mengatakan kepada teman, “Kau betul-betul kawan sejati,” bila kita tidak merasakan tindakannya sebagai “kawan”?

Keep the friendship, guys...!!!


Rabu, 06 Juni 2012

Talk Less Do More

Dalam tayangan iklannya, Classmild kerap memberikan jargon ini, Talk Less Do More. Sekadar mengingatkan dan mengajak kita untuk sedikit bicara, tapi berbuat lebih banyak. Sungguh tepat kiranya jika pesan moral dalam iklan itu, kita jadikan prinsip hidup. Godbless lewat lagunya, N.A.T.O (No Action Talk Only) juga menceritakan tentang orang-orang yang hanya bisa ngomong, kritik sana-sini tapi tidak ada tindakan nyata. Hmm... layaknya komentator sepakbola dan pengamat politik.

Apakah itu gambaran kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan? Bisa saja begitu, karena berbicara memang lebih gampang daripada berbuat. Apa juga karena sistem pendidikan kita yang lebih banyak teori daripada aplikasi, sehingga sumber daya manusianya lebih banyak berteori daripada melakukan perubahan-perubahan tertentu? Saya pun merasa tumbuh dan berkembang melalui sistem pendidikan ini, punya ide-ide kreatif tapi tidak punya kapasitas yang cukup untuk mengembangkannya. Saya hanya bisa mengkritik kebijakan tapi tidak bisa ikut serta membenahi.

Teman-teman di sekitar saya pun demikian. Setiap kali ngobrol bareng atau sekadar sharing, bahasan yang saya tangkap seputar kritik dan pesimisme saja, haha... . Dalam beberapa kali obrolan, ada saja ide-ide kreatif yang terlontar, yang tentu saja tujuannya untuk mengembangkan diri dan menambah income. Misalnya, ide untuk mendirikan koperasi, kongsi dagang, lembaga bimbingan belajar, outbond, atau bahkan membuat studio musik dengan tempat nongkrongnya. Di lain obrolan, ada juga yang berinisiatif membuat majalah, video klip, film indie, dan home band. Teman-teman saya yang lain juga ingin membuka usaha kuliner, peternakan, dan agraris. Tapi sayang, sepertinya mereka tidak punya kesiapan dan kapasitas yang cukup untuk merealisasikannya. Semua obrolan tentang ide-ide kreatif itu terbawa angin entah kemana.

Saya sebenarnya punya keinginan untuk memproduksi dan memasarkan lagu-lagu sendiri secara indie, membuka sanggar musik, dan mengupayakan agar sekolah tempat saya mengajar punya kegiatan musik tradisional. Saya juga ingin mengajak teman-teman saya untuk bisa menjadi volunteer di sekolah saya, mengajarkan kemampuan atau keahlian mereka masing-masing pada anak-anak didik, semisal melukis, desain grafis, arsitek, dan sebagainya. Hah, lagi-lagi itu hanya sebatas wacana tanpa tindakan, sampai sekarang pun saya belum mampu mewujudkannya. Rasa-rasanya konsep dan idealisme kita masih suka terbang mengawang-awang di udara, tidak berpijak di bumi.

Lalu, bagaimana cara mewujudkan ide-ide brillian itu? Mungkin kita bisa mewujudkannya kalau kita mau berusaha dan tidak banyak omong tentunya. Menurut saya, berpikirlah yang sederhana, jangan muluk-muluk. Kata Dahlan Iskan, dalam Manufacturing Hope, Jawa Pos, "Hidup itu yang polos-polos saja." 
Terbitkan niat dan semangat dalam diri sendiri. Intinya diri sendiri dulu, baru kita tularkan pada orang lain. Thinking out of the box, execute inside the box. Begitulah kata Yoris Sebastian. Berpikir di luar kotak itu boleh-boleh saja, tapi kalau sudah ketemu idenya maka cepat-cepatlah masukkan lagi ke dalam kotak agar ide itu tidak kemana-mana. Lalu, buatlah komitmen untuk segera mewujudkannya. Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga,'kan? Saya percaya kesuksesan itu adalah proses, bukannya instan. Seperti kata Tan Malaka, orang yang sukses di masa depan adalah orang yang tidak pernah lelah dalam berproses.

Maka, merujuk pada jargon Talk Less Do More, berbicaralah tentang suatu ide dengan sewajarnya, dan segera lakukan aksi yang sesungguhnya. Mulai dari hal-hal kecil, simpel, dan yang bisa dikerjakan sekarang. Bukankah hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil?
Never stop thinking creatively and make it real...!!!


Selasa, 05 Juni 2012

Review: Slank, Dewa 19, dan Gigi

Pada tulisan saya kali ini, saya ingin me-review tiga band besar yang pernah berjaya di era 90-an, yakni Slank, Dewa 19, dan Gigi. Di era 2000-an pun, mereka masih eksis di blantika musik Indonesia, kecuali Dewa 19 yang memilih vakum sepeninggal Once, vokalisnya.

Mengutip ucapan Soleh Solihun, seorang jurnalis musik yang juga stand-up comedian, review itu bersifat subyektif. Isi tulisannya berdasarkan pandangan atau penilaian pribadi penulisnya terhadap topik tertentu. Kalau ada musisi yang tidak suka dengan review seorang penulis, merasa apa yang dinilai terhadap karyanya tidak obyektif, berarti dia salah persepsi memandang sebuah review.

Back to the topic, ternyata tiga band ini cukup banyak mendapat tempat di hati para penikmat musik. Dari sekian banyak band yang tumbuh subur kala itu, bak jamur di musim hujan, tiga band ini paling sering disorot media. Maka, tak heran jika para awak band-band ini banyak dikenal publik. Selain lagu-lagunya yang everlasting, musiknya juga berkualitas. Genre musik yang diusung mereka, masing-masing bisa dikatakan tidak lekang ditelan waktu. Di saat band-band sejamannya sudah gulung tikar, tiga band ini tetap digaet music label dan album-albumnya tetap sukses di pasaran.

Jaman saya masih SD, TVRI sering memutar video-video klip Slank, Dewa 19, dan Gigi. Dari situ mungkin anak-anak seusia saya pada waktu itu sudah mulai mengenal lagu-lagu mereka, dan tentu saja mulai mengidolakan mereka. Beranjak usia SMP, saluran TV swasta juga banyak yang menampilkan acara-acara video klip musik, semacam Video Musik Indonesia, Zimfoni, Intro, dan sebagainya. Maka, makin banyak pula video-video klip yang ditampilkan dari tiap-tiap album mereka. Makanya, ketika MTV Classic Indonesia menayangkan video-video klip jadul band-band itu, acara itu seakan-akan menjadi mesin waktu yang membawa kita pada masa lampau dunia musik 90-an. 

Di masa SMU, saya sempat menjadi slanker fanatik. Di panggung-panggung festival musik, lagu-lagu Slank-lah yang kami mainkan, istilahnya Slank cover-lah, haha... . Menginjak kuliah, saya sempat juga menjadi baladewa dan gigikita. Setiap ada kesempatan nge-jamming di studio atau live on air di radio, kami memainkan lagu-lagu Dewa 19 dan Gigi. Tak ketinggalan koleksi kaset pita band-band ini cukup lengkap terpajang rapi di rak kaset saya, maklum jaman itu masih menggunakan kaset pita. Bahkan, beberapa majalah musik yang mengupas sepak terjang band-band jagoan ini masih saya simpan, meskipun ada sebagian yang hilang entah kemana dibawa beberapa teman saya.

Saya harus akui bahwa tiga band ini cukup memberikan warna bermusik saya secara mainstream. Kata teman saya yang penyiar radio, musikalitas sebuah band itu bisa kita lihat dan dengar sampai pada tiga album pertama, selebihnya geregetnya biasa-biasa saja. Mungkin argumen teman saya itu ada benarnya. Menurut saya kualitas musikalitas Slank ada di lima album pertamanya, yaitu: Suit... Suit... He... He... Gadis Sexy (1990), Kampungan (1991), Piss! (1993), Generasi Biru (1995), dan Minoritas (1996). Dewa 19 pada empat album pertamanya, yaitu: Dewa 19 (1992), Format Masa Depan (1994), Terbaik Terbaik (1995), dan Pandawa Lima (1997). Gigi pada tiga album pertamanya, yaitu: Angan (1994), Dunia (1995), 3/4 (1996).

Pada album-album berikutnya, saya menilai perjalanan karir bermusik mereka biasa-biasa saja. Mungkin saja itu terjadi karena adanya perubahan atau pergantian formasi. Bukannya saya meragukan sense of music para personil band yang baru, tapi saya lebih suka formasi awal mereka, sepertinya lebih dahsyat dan menelorkan hits-hits abadi. Mungkin karena mereka membangun band itu benar-benar berangkat dari bawah. Jadi, chemistry-nya lebih mengalir.
Sebut saja Slank yang masih diawaki Kaka (Vokal), Pay (Gitar), Bongky Ismail (Bas), Indra Qadarsih (Kibor), dan Bimbim (Drum). Lalu, Dewa 19 yang masih diperkuat Ari Lasso (Vokal), Andra Ramadhan (Gitar), Erwin Prasetya (Bas), Ahmad Dhani (Kibor), dan Wong Aksan (Drum), pengganti Wawan Abi, drummer pertama mereka. Sekadar catatan, sebelum hadirnya Aksan, kekosongan drummer pernah diisi oleh Ronald Fristianto (ex-Gigi) dan Rere (ex-Grass Rock) sebagai additional players.
Kemudian Gigi yang masih beranggotakan Armand Maulana (Vokal), Dewa Budjana (Gitar), Aria Baron Arafat (Gitar), Thomas Ramdhan (Bas), dan Ronald Fristianto (Drum).

Lantas, siapa yang bisa memungkiri jika mendengar beberapa lagu Slank, Dewa, dan Gigi, dia tidak akan bersenandung. Begitu kuatnya alunan lagu-lagu mereka mengisi ruang-ruang musik 90-an, bahkan 2000-an, atau nanti barangkali lagu-lagu mereka akan menjadi lagu-lagu nostalgia pengganti lagu-lagu era 60-an, 70-an, dan 80-an, Who knows? 

Oke, sekian dulu review saya mengenai tiga band papan atas Indonesia ini. Kalau mengulasnya kepanjangan, saya jadi tidak enak hati pada Bens Leo, Denny Sakrie, dan Remy Soetansyah, sok jago mengamati soal musik, hihi... .
Mungkin kamu sependapat dengan review saya, atau mungkin juga tidak, toh itu bukan menjadi masalah. Seperti kata Kang Soleh di atas, namanya saja review. Jadi, memang tidak obyektif, bukan? :)

Sebelah Mata

Saya menjadi guru tidak tetap di sebuah sekolah dasar di kota saya. Suatu hari, saya dan rekan guru tidak tetap mengantar beberapa murid ke suatu lomba pendidikan. Di sana kami bertemu dengan seorang guru tetap dari sekolah lain yang cucunya bersekolah di tempat kami.

Singkat kata, dia bercerita tentang cucunya yang pernah mengadu padanya tentang kegiatan pembelajaran Penjaskes yang memberatkan cucunya. Cucunya menganggap praktik olah tubuh yang diberikan gurunya tidak sesuai dengan kemampuan fisiknya. Lalu, guru tetap itu bertanya pada teman saya itu, “Siapa pengajar Penjaskes di sekolah Anda? Apakah guru tidak tetap?”
Terlepas dari benar tidaknya isu yang dilontarkan sang cucu, kebetulan guru Penjaskes di sekolah saya adalah guru tetap juga.

Saya agak terenyuh mendengar perkataan guru tetap itu. Sepertinya dia menganggap bahwa setiap pembelajaran yang kurang atau tidak berkualitas itu hanya dilakukan oleh guru-guru tidak tetap. Sebagai guru tetap yang sudah mengajar puluhan tahun, apakah dia sudah cukup baik cara mengajarnya? Lalu kalau seperti itu, mengapa pemerintah perlu melakukan program sertifikasi guru secara getol dan mengucurkan dana sekian banyaknya demi program ini? Melihat kondisi pendidikan dewasa ini, pemerintah ingin berupaya meningkatkan kinerja para guru di negeri ini melalui program sertifikasi guru. Tapi ujung-ujungnya, tetap saja program ini gagal di mata saya. Saya melihat sendiri bagaimana para guru yang sudah lolos sertifikasi masih enggan meningkatkan kinerjanya.

Dari ulasan saya di atas, saya berharap kita bisa berpikir cerdas, tidak menjadi orang yang menganggap orang lain dengan sebelah mata. Dalam konteks di atas, guru tetap menganggap guru tidak tetap tidak bisa mengajar dengan baik, memaklumkan pada wali murid atau orang tua siswa bahwa guru tidak tetap adalah guru yang masih dan perlu belajar. Lantas, apakah guru tetap sudah cukup belajarnya, cukup ilmunya? Tentu saja kita semua harus tetap belajar meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, bukan?

Di akhir tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa guru tidak tetap sebenarnya juga peduli terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Beri kami ruang untuk bergerak, beri kami dukungan, dan beri kami apresiasi, maka kami akan berikan kontribusi nyata untuk negeri ini.

Kamar Pribadi

Ide menulis mengenai tempat ini muncul ketika saya berbaring santai di ranjang. Ketika saya teringat mantan bassis Dewa 19, Erwin Prasetya membuat lagu Kamulah Satu-satunya setelah bangun tidur di tempat ini. Lalu, saya pun bergegas bangun lagi untuk menulis. Iya... keinginan untuk menulis tempat ini, KAMAR TIDUR.

Ironis memang, Slank pernah menulis lagu berjudul Mau (Beli) Tidur di album PISS (1993). Di lagu itu, Kaka berteriak-teriak, "Aku bangun lagi dan bakar rokok. Kutendang-tendang ranjangku yang bobrok. Mengapa aku masih di kamar ini? Apa mesti mimpi itu kubeli? Hey kamar... gue udah muak di sini. Gue harus pindah dari sini. Tapi, gue belum mampu untuk pergi, gimana?" 
Mungkin dia bosan ada di kamar tidur sepanjang hari tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Tapi, coba tengok Erwin. Saya pernah membaca profilnya bahwa salah satu tempat favoritnya adalah kamar tidur. Dulu saya berpikir Erwin itu aneh, kamar tidur kok dijadikan tempat favorit, haha... .

Mungkin kamu sempat berpikir, apa istimewanya menulis tentang ini. Bukan bermaksud hiperbola, karena ternyata di tempat ini, saya tidak hanya tidur. Di sini, saya juga dapat menggali ide dan inspirasi, melakukan kontemplasi tiada henti, membaca buku tanpa ada yang mengganggu, dan mendengarkan lagu-lagu kesukaan secara gila-gilaan. Bagi saya, sebobrok-bobroknya ranjang ini, sejelek-jeleknya kamar ini, tempat ini juga salah satu tempat favorit saya. (Tos dulu, Bang Erwin, sesama bassis, hahaha...)

Mungkin sama halnya dengan beberapa musisi yang pernah membuat lagu-lagu hebat mereka di kamar mandi. Misalnya, Indra Qadarsih (BIP) yang spontan membuat lagu Mane Mane Boleh di kamar mandi. Bayangkan Saudara-saudara... di kamar mandi bukan di studio musik. Dari kamar mandi untuk khalayak musik... .
Tapi, meskipun setali tiga uang dengan kamar mandi, untuk kali ini saya cukup menulis tentang kamar tidur saja, lain kali mungkin kamar mandi. :)