Kamis, 31 Desember 2015

Merokoklah dengan Bijak

Dulu saya pernah merokok. Tapi karena saya tidak sepenuhnya merasakan nikmatnya merokok, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti merokok.

Berkumpul dan bercengkerama dengan banyak komunitas perokok setiap harinya, saya bisa bertahan sebagai perokok pasif. Saya menghormati hak perokok aktif dan mereka pun menghormati hak saya. Dalam artian, mereka tidak menggoda saya atau memaksa saya untuk merokok lagi.

Tak ada masalah.

Justru yang menjadi masalah adalah attitude mereka saat merokok.
Contoh pertama:
Sebagai seorang guru, saya memang sengaja ingin menciptakan ruang kelas bebas asap rokok. Maka beruntunglah para siswa saya karena wali kelasnya bukanlah perokok. Kalaupun saya perokok, saya tidak akan merokok di dalam kelas
Suatu waktu ada seorang guru yang mengajar satu mata pelajaran di kelas saya. Setelah dia selesai mengajar, saya kembali masuk kelas. Alangkah kagetnya saya ketika melihat dua puntung rokok di lantai bawah meja saya. Sudah bisa dipastikan rekan saya ini merokok di kelas, lalu membuang sembarangan puntung rokoknya.

Sepele sih tapi ini pemandangan yang kurang sedap dipandang mata. Mengapa dengan enaknya dia merokok di dalam kelas dan betapa entengnya dia membuang sembarangan puntung rokoknya? Padahal di dalam kelas itu tersedia tempat sampah. Huft...

Contoh kedua:
Sudah satu tahun lebih saya mengajar di sebuah pulau kecil di daerah saya. Setiap hari kerja, saya dan rekan-rekan guru menyeberang ke pulau ini dengan perahu kayu bermesin pulang pergi. Perahu ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian depan tidak beratap, biasanya digunakan untuk tempat sepeda motor. Sedangkan bagian kedua beratap, bagian ini disediakan untuk penumpang.

Begini pemandangan setiap harinya. Di dalam bagian ini berkumpul dan saling sesaklah para penumpang, baik pria maupun wanita. Biasanya para pria perokok akan merokok dengan nikmatnya tanpa memperhatikan keadaan yang ada, padahal di sana tak sedikit pula penumpang yang tidak merokok, terutama para wanita.

Yang tidak saya habis pikir adalah pernah suatu ketika seorang ibu guru complain begini, "Tolong matikan dulu rokoknya, asapnya tidak enak dihirup." Sebuah ungkapan rasa tidak nyaman, saya kira. Namun apa reaksi salah seorang teman saya yang perokok? "Kalau tidak suka dengan asap rokok, ya di luar ruangan ini saja!"

Haha. Astaga...

Menurut saya, ini kelakuan perokok yang tidak bijak. Ini jelas melanggar hak asasi manusia bukan perokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar