Rabu, 31 Oktober 2012

Musik dan Musisi

Sekali waktu saya mendengarkan kembali lagu besutan Godbless, Musisi. Lagu lawas yang jarang kita dengar lagi riuhnya. Saya simak lagi potongan barisan liriknya, Dengarlah... ketuk nada dalam birama. Inilah... getar jiwa bagi musisi.

Sejenak saya teringat kata-kata Bono dalam film dokumenter U2 di Star Movies, From The Sky Down, "Kita sering tidak menghargai musisi tapi menghargai musiknya." Menurut interpretasi saya, sebagian besar orang pasti suka musik. Itu adalah sifat dasar manusia yang menyukai keindahan. Itu bisa kita dapatkan dari seni, termasuk musik. Itulah kenapa, kita menyimpan dan memutar banyak lagu di gadget kita. Kita menghargai musiknya. Tapi, apakah kita menghargai musisinya? Tunggu dulu, ternyata sebagian orang tidak serta-merta menghargai musisinya, padahal musik berkaitan erat dengan musisi.

Tidak usah jauh-jauh, di kota saya saja misalnya. Apresiasi terhadap orang yang memainkan musik atau menciptakan karya musik bisa dibilang minim. Bagaimana tidak, orang-orang yang berkecimpung di dunia entertainment (musisi dan penyanyi, red) mau tidak mau harus rela dibayar tidak sebanding dengan preparasi dan act perform mereka dalam sebuah acara/pesta. Belum lagi anggapan atau pandangan miring masyarakat, yang belum tentu benar, terhadap profesi bidang musik ini.

Menurut saya, terlalu naif kalau kita menjustifikasi atau bahkan menggeneralisasi bahwa profesi musisi itu kurang baik, misalnya dalam hal gaya hidup. Itu adalah pilihan hidup. Apakah kita bisa menjamin orang-orang yang berprofesi di luar musik bergaya hidup baik? Karena pada kenyataannya, gaya hidup baik maupun tidak baik itu tidak dimungkiri melekat pada tiap-tiap individu, apapun profesinya.

Kadang saya kesal ketika teman saya berkata, "Kapan kamu mau berhenti main musik?" Ah, pertanyaan yang menjengkelkan, seakan-akan itu menyiratkan bahwa dia tidak suka dengan pekerjaan 'bermain musik'. Seakan-akan dia mau menasihati saya kalau bermain musik itu tidak ada gunanya. Apakah menurut dia, bermain musik itu hanya sekadar bersenang-senang menikmati musik, dibarengi kebiasaan-kebiasaan sampingannya? Tentu saja tidak, sekali lagi itu adalah pilihan. Karena saya juga tidak pernah bertanya pada teman saya, "Kapan kamu mau berhenti merokok? Atau, kapan kamu mau berhenti blablabla...?"
Ada juga orang-orang yang sok melarang musik karena agama. Apa lagi itu, saya mau tanya dulu, "Di ponselnya masih tersimpan lagu-lagu populer saat ini, nggak?" Kalau masih ada, maka berhentilah melarang kesenangan orang lain.

Musik adalah kebutuhan jiwa. Maka, jangan mengontaminasi keberadaannya.
Musisi bekerja untuk menghibur orang lain. Bukankah pekerjaan menghibur orang lain itu baik?


Jumat, 26 Oktober 2012

Salat Daging

Saya selalu kagum pada tokoh-tokoh yang tak biasa. Tak biasa dalam arti mereka tidak kaku, tidak konvensional, dan selalu melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda. Beberapa di antaranya yang saya suka, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Gus Dur, Mahfud M.D., Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Cak Nun, dan Gus Mus. Nah, tokoh terakhir yang saya sebut ini, yang notabene sebagai kiai, bisa dibilang cukup nyentrik.

Gus Mus, menurut saya adalah salah satu kiai yang open mind, bisa menerima perubahan yang terjadi di masyarakat dengan apa adanya, tanpa resistensi yang meluap-luap. Mungkin, menurut beliau, selama sesuatu itu tidak bertentangan dengan agama, sah-sah saja. Beliau juga seorang penyair, bahkan termasuk kiai yang rajin update status di twitter. Hahaha. Keren.

Dalam acara Kick Andy, beberapa bulan yang lalu, saya mengambil pelajaran dari apa yang dia katakan. Beliau berkata bahwa masyarakat kita salatnya masih sampai pada daging, tidak sampai pada jiwa dan hati. Oleh karenanya, jangan heran jika korupsi terus terjadi di negeri ini.