Kemarin pagi saya mengajak anak sulung saya berlatih tenis untuk pertama kalinya. Umurnya masih tujuh tahun. Siapa tahu dia suka. Saya hanya ingin mengenali minat dan bakatnya sedari dini. Kalau pun nantinya tak suka, saya akan menawarkan jenis olahraga yang lain.
Hari pertama tentu merupakan pengalaman baru baginya. Bertemu dengan orang baru dan teman-teman baru. Latihan pemanasan pun dimulai. Sampai akhirnya, dia mencoba memukul bola. Untuk pertama kalinya. Namanya perdana, dia kesulitan menggunakan raket dan mengikuti arahan sang pelatih.
Di tengah sesi latihan, tak sengaja dia bertemu dengan teman sekelasnya di sekolah. Seperti biasa, dia selalu ramah menyapa temannya lebih dulu. Mereka pun berlatih bersama.
Keesokan harinya, sepulang sekolah dia bercerita bahwa temannya yang berlatih tenis mengejeknya di depan teman-temannya yang lain. Kata temannya, dia tidak bisa bermain tenis. Mungkin saja temannya merasa bisa bermain tenis lebih baik darinya.
Lalu saya tanya balik, "Kamu jawab apa saat temanmu bilang begitu?" Dia bilang, "Dulu aku tidak bisa naik sepeda Polygon besar, tapi sekarang aku bisa. Kalau rajin berlatih, nanti aku juga bisa main tenis."
Saya terkesan. Dari jawabannya, saya bisa belajar. Untuk menanggapi sebuah ejekan dari orang lain, kita tidak perlu membalas ejekan tersebut. Kita bisa meresponnya dengan pernyataan yang masuk akal.
Terima kasih, Anakku.