Sabtu, 24 September 2016

Kebenaran

Saya teringat kutipan seorang rekan kerja ketika menutup sebuah pertemuan, "Kita menerima suatu kebenaran jika kebenaran itu tidak mengusik kehidupan kita, tapi tak jarang pula kita menolak suatu kebenaran jika kebenaran itu mengusik kehidupan kita."

Ya, seringkali kita bersikap seperti itu dalam kehidupan sehari-hari. Kita mudah saja menilai kekurangan bahkan kesalahan orang lain. Tapi kita sukar mengoreksi kekurangan dan kesalahan diri sendiri.


Jumat, 20 Mei 2016

Pengetahuan

Pernah mendengar kalimat klise ini?
"Paling nggak, kita tahu bahwa itu salah."

Sudah tahu itu salah, tapi kita memakluminya. Hehe.

Ah, hidup ini memang berat dijalani...

Kamis, 19 Mei 2016

Persepsi

Jika akan pergi ke suatu tempat, kamu naik apa?
Sepeda?
Sepeda motor?
Mobil?
Atau jalan kaki saja?

Jawabannya mungkin akan relatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan. Ada yang jalan kaki saja, karena jaraknya sangat dekat. Ada yang naik sepeda, karena jaraknya dekat. Ada yang naik sepeda motor, untuk menempuh jarak jauh. Bahkan ada yang naik mobil.

Semua tergantung kebutuhan sih. Tapi seringkali kita tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Saya 

Ibu

Masa SD, SMP, dan SMA rasanya adalah masa di mana saya sering bergelut emosi dan pendapat dengan ibu saya.

Ibu saya adalah wanita yang terbiasa mandi lebih awal ketika sore hari. Sekitar pukul 3 sore, ibu sudah mandi dan salat untuk kemudian menyapu rumah dan halaman. Atau kalau tidak begitu, ibu menyapu halaman terlebih dulu, lalu mandi.

Kamis, 25 Februari 2016

Projek

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah tayangan tivi.

Mesin Waktu

Beberapa menit yang lalu, saya melihat DP terbaru teman saya di BBM. Dia memasang foto jaman dulunya di depan gedung kampus. Lalu dia berstatus: dulu pernah kurus.

Seketika itu juga, saya langsung teringat bahwa saya pernah bersama dengan dirinya dan teman-teman kuliah lainnya. Masa suka duka bersama. Salah satu episode dalam kehidupan saya.

Sekarang, saya berada dalam sebuah episode yang lain. Sebuah episode di mana saya berada dalam kehidupan bersama istri dan anak. Sebuah episode di mana saya berada dalam kehidupan bersama teman-teman kerja saya.

Tanpa kita sadari, kita telah banyak melewati masa demi masa. Dan segala rasa telah kita tinggalkan dalam masa-masa itu.


Senin, 25 Januari 2016

Tatap Muka

Malam ini malam minggu. Istri saya pergi ke rumah neneknya dengan membawa serta anak saya.

Practice Makes Perfect

Banyak berlatih semakin mahir.

Long Trip

Dulu sebelum menikah, karena seri

Mau Apa, Loe?

Hampir tabrakan!

Saya sering mengalaminya. Bukannya saya lalai di jalan, saya sudah cukup hati-hati. Tapi terkadang pengguna jalan lain yang mau menang sendiri. Kalau sudah hampir saling berserempet atau hampir adu motor dengan pengendara motot lain.

Dan barusan saya mengalaminya lagi.

Serahkan pada Ahlinya

Kemarin malam, saya mendengarkan program lokal PRO 1, nama programnya Legenda.



Mengajar

Mengajar itu menyenangkan.

Tak Ada Batas

Sabar itu ada batasnya

Katanya sih..

Minggu, 24 Januari 2016

Petang Kali Ini

Bagaimana memaknai waktu maghrib?

Tak Bisakah?

Salah satu hal yang menyebalkan adalah didesak orang lain untuk melakukan sesuatu.

Ini jalanku, bukan jalanmu.
It's my business, not your business.

Sabtu, 23 Januari 2016

Hukum Saja!

Tadi pukul 10.30 WIB, saya ikut rapat dewan guru. Salah satu topik rapat adalah rencana perindangan sekolah. Pak Kepsek bilang pada saya, "

Lagi-lagi...

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya saya tuliskan dulu kata kuncinya:
Berikut adalah kata-kata dalam bahasa Madura:
Jaga, artinya bangun
Ngedhing, artinya mendengar

Sekarang, mari kita lanjut...


Selamat Pagi Sekali

Selamat pagi...

Hidup teratur itu enak. Idealnya sih begitu. Karena dengan hidup teratur, kita akan senantiasa sehat baik badan maupun pikiran.

Pagi ini saya bangun pukul 04.30 WIB. Saya jarang sekali bangun sepagi itu. Biasanya bangun pukul 05.00 WIB. Itu pun terpaksa karena saya harus segera bergegas untuk mandi, salat subuh, dan sarapan karena pukul 05.45 WIB, saya harus melaju motor ke tempat kerja.

Nah, tadi pagi itu luar biasa rasanya. Saya bangun lebih pagi tanpa alarm. Bangun lebih pagi memang menyenangkan. Tapi dengan syarat jam tidurnya cukup dan berkualitas. Dan tentunya bangunnya bukan karena paksaan. Sepasang mata ini terbuka secara otomatis.

Ini pasti akibat saya tidur lebih awal. Kemarin malam, saya mulai tidur sekitar pukul 20.00 WIB. Terasa capek memang mata dan tubuh saya kemarin malam. Daripada tidak fokus dan mengganggu kesehatan, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan tumpukan pekerjaan saya di meja kerja. Maklum akhir-akhir ini saya menjadi workaholic. Workaholic-nya sih akibat saya menunda-nunda pekerjaan. Akhirnya serasa dikejar-kejar deadline. Haha.

Kapan ya saya bisa hidup teratur? Karena nyatanya saya tak kunjung teratur. Kerjaan sering molor, salat tak tepat waktu bahkan kadang-kadang bolong, sering tidur larut malam, dan sebagainya.

Kata Nabi Muhammad sih, "Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin." Nampaknya nasihat beliau sulit untuk kita terapkan. Karena apa? Karena kita hanyalah manusia biasa, hidup kita ini pun maju mundur dan naik turun.

Tapi demi kebaikan kita, marilah kita mencoba dan berusaha. InsyaAllah bisa.

Selamat pagi, sekali lagi...

Jumat, 22 Januari 2016

Rumahsakit

Awal ketertarikan saya pada band indie veteran asal Jakarta ini bermula saat saya menonton live music-nya di YouTube.

Kecerdasan

Suatu saat saya menyimak obrolan dua orang rekan saya. Mereka membicarakan tentang cara pengerjaan PUPNS.
Percakapannya kurang lebih begini:
A : "Istri saya bisa mengerjakan PUPNS-nya tanpa kendala."

Buku Harian

Dulu waktu awal menulis, terbesit keinginan saya untuk menulis di blog ini minimal satu tulisan tiap hari. Keinginan ini salah satunya termotivasi oleh pernyataan Soleh Solihun di blog pribadinya, bahwa dia ingin menulis di blognya setiap hari, minimal satu tulisan juga dalam satu hari.

Apa mau dikata, Soleh tak bisa mewujudkan keinginannya itu. Begitu pun saya. Kalau kata Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan dalam sebuah lagu duetnya sih, "Tak mudah untuk di hati, tak mudah untuk dihadapi." Nyatanya keinginan itu tenggelam seiring padatnya kesibukan dan rutinitas sehari-hari.

Seandainya saya bisa menulis di blog setiap hari, mungkin blog ini akan menjadi seperti buku harian. Blog ini akan menjadi media untuk saya menuliskan segala hal yang terjadi pada saya dan lingkungan sekitar saya.

Istilah 'buku harian' ini mengingatkan saya pada sebuah sinetron lawas ketika saya berusia SD. Judulnya ya Buku Harian, tayangnya di SCTV. Saya lupa setiap hari apa. Pemerannya adalah Didi Petet sebagai ayah, Ully Artha sebagai ibu, Nia Daniaty sebagai anak pertama, Adjie Massaid sebagai anak kedua, Dessy Ratnasari sebagai anak ketiga, dan Maudy Wilhelmina sebagai anak keempat.

Ada saja cerita yang terjadi pada keluarga ini. Semua cerita yang terjadi setiap hari dituangkan ke dalam buku harian. Nah, adegan menulis buku harian ini diperankan oleh Nia Daniaty dalam setiap episodenya. Dari sinetron ini, untuk pertama kalinya saya jadi tahu apa itu buku harian.

Dan waktu berusia SD juga, tak sengaja saya menemukan sebuah buku harian di rumah sepupu perempuan saya. Saya sempat membaca beberapa tulisan di buku hariannya. Isi tulisannya sih menceritakan tentang pengalaman hidupnya setiap harinya, lengkap dengan hari, tanggal, dan waktu tulisan itu dibuat. Nampaknya sepupu saya ini lumayan rajin curhat di buku hariannya.

Saat itu buku harian memang jadi tren. Tak sedikit remaja bahkan ABG memiliki buku harian. Biasanya untuk memulai tulisan, mereka menulis kata:
Dear diary...

Nah, sekarang, setelah teknologi sudah sedemikian canggihnya, diary sudah tergantikan dengan blog, sudahkah kita menyapa blog kita setiap hari?
Dear blog...

Beli Makan

Tadi siang saya membeli sapu sabut kelapa dari penjual sapu keliling. Saya memang berniat ingin membeli sapu jenis ini, hanya saja belum sempat ke pasar. Untung saja ada penjual sapu ini,sehingga saya tidak perlu bersusah payah pergi ke pasar.

Terkadang bahkan sering kita merasa enggan untuk sekadar membeli barang sederhana seperti sapu ini. Padahal fungsinya sangat kita butuhkan.

Harga sapu ini ada dua macam. Sapu yang biasa harganya Rp10.000,00 dan yang lebih bagus harganya Rp15.000,00. Saya mencoba menawar. Tapi tanpa basa-basi, si penjual langsung bilang, "Silakan ditawar, sapu yang biasa harga pasnya Rp8.000,00 dan sapu yang lebih bagus Rp10.000,00."

Tanpa pikir panjang, saya langsung beli sapu yang lebih bagus itu dengan harga Rp10.000,00. Toh sapu jenis ini di pasar harganya Rp15.000,00.