Jumat, 28 Desember 2012

Bekerja Cerdas

Dalam sebuah bukunya, Andrew Griffiths, seorang pakar UKM terkemuka asal Australia, menulis, “Tak ada peraturan yang pernah mengatakan bahwa untuk menjadi sukses dalam pekerjaan, anda harus bekerja mati-matian. Jangan selalu mengatakan bahwa anda sibuk setiap saat. Ubah ucapan anda, anda juga mengubah pikiran.”

Tulisan di atas menyadarkan saya bahwa ternyata untuk meraih kesuksesan, tidak perlu bekerja mati-matian. Apalah istilahnya, membanting tulang memeras keringat. Hehehe.
Buktinya, sampai sekarang saya masih belum merasakan kesuksesan yang berarti, dari segi income, tentunya. Dari segi mana lagi? Karena kesuksesan-kesuksesan lain akan serta-merta mengikuti kalau kesuksesan yang satu ini sudah kita raih. Money talks, kata Soleh Solihun.

Nah, tampaknya ini selaras dengan nasihat Aa Gym, “Bekerjalah dengan cerdas.” Mungkin kita memang harus bekerja dengan cerdas. Karena kalau kita hanya bekerja mati-matian, tetapi tidak taktis, hasilnya pun kurang maksimal. Lebih ekstrim lagi, tidak efektif dan efisien.

Ada lagi, nih, nasihat dari teman saya, “Mungkin alangkah lebih baiknya kalau kita memadukan dua strategi sekaligus. Bekerja keras sambil bekerja cerdas. Dengan begitu, kita akan lebih cepat mencapai kesuksesan.”

Dan, ternyata nasib teman saya tidak jauh beda dengan saya. Sampai sekarang pun, dia belum mencapai kesuksesan yang signifikan.

Arrghh... Absurd lagi... :D

Kamis, 27 Desember 2012

Kebutuhan VS. Keinginan

Dalam sebuah obrolan di Radioshow TV-One beberapa bulan yang lalu, Rene Suhardono, seorang Career Coach, mengatakan bahwa kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang terpisah.

Kita selalu dihadapkan pada dilema ini. Kita sering tidak bisa membedakan keduanya dengan jelas. Mana yang sifatnya urgent dan mana yang sebenarnya bisa ditangguhkan.

Kebutuhan adalah segala sesuatu yang harus kita penuhi untuk kelangsungan hidup. Misalnya, sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.
Sedangkan, keinginan adalah segala sesuatu yang ingin kita miliki dalam hidup. Misalnya, ingin kaya raya, ingin punya mobil mewah, dan apa saja yang diidealkan oleh manusia kebanyakan.

Berbicara masalah keinginan, tentu saja manusia tidak akan pernah puas. Sudah punya ini, ingin punya itu, nambah lagi, dan begitu seterusnya. Akibatnya banyak orang terlilit utang karena terlalu melayani keinginan-keinginannya. Dalam kondisi seperti itu, self-control sangat dibutuhkan. Jangan asal memenuhi semua keinginan kita, karena di sisi lain, kebutuhan-kebutuhan kita belum sepenuhnya terpenuhi.

Nah, ini yang sering mengganggu pikiran saya. Di lingkungan sosial, tindakan menomorsatukan keinginan kerap terjadi. Bahkan, kita pun sendiri ikut arus di dalamnya. Misalnya, suka membeli barang-barang mahal demi gengsi. Katanya, sih, biar nggak makan yang penting gaya. Hahaha.

Rene berpendapat bahwa kita selalu melakukan comparison happiness, suka membandingkan-bandingkan kebahagiaan. Misalnya, di lingkungan kerja. Seorang karyawan merasa teman kerjanya lebih sukses darinya. Mungkin dilihat dari segi penghasilan dan tingkat jabatan. Dia selalu iri dan ingin seperti temannya. Kalau dia mau merenung, coba bayangkan kalau dia dipecat? Apakah dia akan berpikir ingin seperti temannya lagi? Tentu saja tidak. Dia pasti akan berpikir, mendingan pekerjaannya tetap seperti sekarang asal jangan dipecat. Lagipula, tidak semua apa yang kita lihat itu sama dengan kenyataannya. Orang yang punya banyak uang dan tinggi jabatan belum tentu merasa senang dan tenang. 

Jadi, nikmatilah apa yang sudah kita miliki, sambil berproses meningkatkan kapasitas diri.

Sabtu, 22 Desember 2012

Bebaskan!

Teman saya yang seorang metalhead kambuhan, sering melontarkan kata tersebut. Satu kata yang sederhana. Tapi cukup membangkitkan semangat. Seakan-akan ia menjadi ungkapan emosi untuk melawan keterkungkungan diri, untuk sejenak melepaskan diri dari belenggu kepatutan. Iya, kepatutan akan sikap berbaris rapi dan menundukkan kepala terhadap norma yang dibuat manusia, yang belum tentu kebenarannya.

Jika kamu 'tak kuasa mengubah keadaan. Ambil gitarmu. Keraskan distorsi. Hentakkan kaki. Teriakkan kemuakan. Luapkan emosi. Dan, katakan dengan lantang:

BEBASKAN!

Jumat, 21 Desember 2012

The Who: Siapa Mereka?

Ini adalah sekuel dari tulisan saya sebelumnya.

Dari dulu, saya sering mendengar band tua ini, The Who. Tapi, siapa mereka?

Maklum, di masa SMA dulu, sama seperti remaja-remaja lainnya di kota saya, perhatian saya lebih tertuju pada band-band rock seperti Guns N' Roses, Metallica, Mr. Big, Bon Jovi, Dream Theater, atau Nirvana. Karena memang pada saat itu, medianya hanya menyajikan itu. Bahkan, saya hanya terobsesi pada Guns N' Roses. Saya suka tertawa geli kalau mengenang peristiwa nonton konser GNR via VCD, ditonton berulang-ulang, tak pernah bosan pula.

Semakin ke sininya, masa kuliah kalau tidak salah. Saya baru sadar bahwa banyak band lain yang bisa membuka pikiran saya. Salah satunya, The Police. Gila, keren sekali band ini. Mengapa tidak dari dulu saya suka band ini?

Untuk The Who, saya belum sempat mendengarkan lagu-lagunya sampai sekarang. Menurut cerita di majalah musik, band ini cukup menarik perhatian penikmat musik di jamannya. Kata Soleh Solihun, sih, The Brandals -band indie lokal dari Bandung- terpengaruh musik band ini. Kebetulan, saya suka musik dan aksi panggung The Brandals. Saya mengira-ngira saja, mungkin The Brandals adalah reinkarnasi dari The Who.

Okelah, setelah Frank Zappa, The Who boleh juga.


Siapa Frank Zappa?

Kemarin siang, di sela-sela obrolan dengan seorang teman, mata saya tertuju pada layar monitor di tempat kerjanya. Tampak di YouTube, seorang musisi tua sedang menyandang gitar bas. Iseng saya tanya, "Siapa dia?" Lalu, teman saya menjawab, "Frank Zappa."

Surprise... Frank Zappa, sosok yang selama ini membuat saya penasaran, dan sayangnya rasa penasaran itu dijawab duluan oleh teman saya. Idealnya sih, harusnya saya sendiri yang menjawab rasa penasaran itu. Hehehe.

Sebenarnya sudah lama, saya ingin tahu banyak tentang Frank Zappa. Cuma rasanya, niat ini belum juga kesampaian, meskipun sangat gampang sekali melakukannya, tinggal browsing di internet. Dan, sampai saat tulisan ini saya muat, niat saya ini masih juga belum kesampaian.

Kala itu, teman saya sedikit membeberkan kiprah Frank Zappa di dunia musik. Saya manggut-manggut tanda salut. Saya bertanya lagi, "Hhm... Dia bassis, ya?" Teman saya terperanjat dalam tawa bahaknya. "Pertanyaan yang konyol," katanya, "Lalu, kenapa kalau dia bassis, 'gak boleh? Sting 'kan juga bassis?"

Nah, pandangan ini yang selalu mengungkung pemikiran saya. Saya selalu menganggap kalau musisi yang bisa terkenal atau melegenda itu hanya bisa dilakukan oleh penyanyi dan gitaris saja. Entah mengapa saya selalu berpikiran seperti itu. Apa karena figur yang sering diekspos hanya sang vokalis saja? Atau, karena dulunya saya sering menonton beberapa gitaris solo yang unjuk gigi di panggung, menganggap mereka sebagai satria bergitar?

Terlepas dari itu, saya menjadi semakin yakin kalau Frank Zappa adalah seorang legenda musik yang patut saya nikmati karya-karyanya, sekaligus sebagai bahan referensi. Apalagi, setelah saya tahu kalau Soleh Solihun dalam bukunya, Celoteh Soleh, mengutip sebuah pernyataannya tentang pekerjaan jurnalis rock. Ini menambah rasa penasaran saya.

Ah, sepertinya saya harus segera mencari tahu tentang Frank Zappa, sebelum saya berubah pikiran. Mencari tahu tentang The Who. 

Sabtu, 15 Desember 2012

Aksi Ritmis Jiwa Melodis

Mengetahui siapa dalang di balik lagu-lagu Maliq & d'Essentials, ternyata adalah Widi Puradiredja, sang penggebuk drumnya. Atau, Bimbim yang memegang kendali hampir semua lagu Slank. Atau juga, Bimo -drummer bergaya vintage- yang menulis lagu-lagu pada semua band project-nya, memang menarik untuk saya tulis di sini.

Bukan karena permainan mereka yang jago, tapi lebih karena mereka berbakat menciptakan lagu hits. Bukan hanya satu atau dua buah lagu. Tapi, hampir semua lagu di setiap album rilisan band mereka. Hebat, tentu saja. Sebuah gift, mungkin. Drummer-drummer itu telah membuka pikiran saya bahwa tak selamanya lagu bagus bisa diciptakan oleh penyanyi atau gitaris. Mungkin kalau kita menengok ke luar, Lars Ulrich, drummer Metallica, adalah salah satu contohnya.

Ini mungkin pandangan dangkal saya. Bagaimana mungkin orang-orang yang terbiasa berfokus pada alat musik ritmis, dalam hal ini adalah drum, tapi memiliki kepekaan bermelodis? Ya, itu tadi, lewat kekuatan lagu-lagu yang mereka ciptakan.

Well, that's the fact. And, make applause for them.