Selasa, 20 November 2012

Yovie: The Hitsmaker

Berbicara the hitsmaker angkatan '90-an atau 2000-an, ada banyak pencetak hits di tanah air. Sebut saja Dewiq, Melly Goeslaw, Ahmad Dhani, Eross Chandra, Piyu Padi, dan mungkin masih banyak lagi. Tapi ada seorang musisi, menurut subyektivitas saya, yang karya-karyanya brilian. Dia adalah Yovie Widianto, kibordis sekaligus motor Kahitna, Founder Yovie Nuno, dan pencipta lagu beberapa penyanyi pop, seperti Audy, Rossa, atau finalis Indonesian Idol.

Mengapa saya mengategorikan Yovie sebagai seorang pencipta lagu jenius? Mudah saja, karena dia banyak menciptakan lagu-lagu manis khas Kahitna, dan hampir semuanya menjadi everlasting songs. Saya tercengang ketika saya tahu kalau lagu Satu Mimpiku (The Groove) dan Bila Kuingat (Lingua) adalah karangannya. Wah, keren sekali. Saya tidak menyangka Satu Mimpiku yang jazzy itu adalah karangan Yovie.

Beberapa bulan yang lalu, saya menonton acara Idenesia di Metro TV, yang dipandu langsung oleh Yovie. Di sela acara, Pasto tampil menyanyikan lagu Cukup Sudah, yang dulunya dipopulerkan oleh Glenn Fredly. Saya kembali tidak menyangka ketika di layar kaca tertulis Yovie Widianto yang menciptakan lagu tersebut.

Bermodal irama yang khas dan sentuhan jazz pada setiap lagunya, meskipun berada di ranah musik pop, tidak diragukan lagi kalau dia adalah salah satu musisi jenius kebanggaan Indonesia.

Ooo..eya..eyo. Kita bangun negeri ini kawan.
-Kahitna- 

Sabtu, 17 November 2012

Preposisi yang Naif

Seperti nama blog saya, apakah tulisan saya sekarang ini termasuk catatan (tak) penting juga, ya? Atau, mungkin ini termasuk catatan penting? Ah, silakan interpretasikan sendiri (jika kamu membaca), karena penting tidak penting, ini harus saya tulis mengingat kejadian ini sering terjadi di layar kaca.

Seminggu yang lalu, untuk memperingati Anniversary Naif yang ke-17, Personil Naif nongol di dua stasiun TV yang berbeda di hari yang sama. Pada satu tayangan, Naif tampil sebagai bintang tamu acara talkshow, Satu Jam Lebih Dekat. Pada tayangan lainnya, Naif manggung dalam acara Satu Jam Bersama Naif.

Dalam acara talkshow tersebut, perjalanan suka duka Naif sebagai band dikupas. Banyak kekonyolan para personil terungkap di sana. Tentu, sebagai fans Naif, saya tidak begitu kaget, karena memang seperti itu tingkah pola mereka di atas panggung atau dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih-lebih Si David, vokalisnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia menghibur penonton sampai over-act di atas panggung Soundrenaline 2004. Walhasil, penonton tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Nah, kembali ke topik. Di salah satu segmen acara talkshow tersebut, Ada semacam testimoni bergilir para personil menilai kepribadian satu sama lain. Yang menjadi perhatian saya justru tulisan di layar kaca. Begini tulisannya: PEPENG DIMATA NAIF, JARWO DIMATA NAIF, EMIL DIMATA NAIF, dan DAVID DIMATA NAIF.

Malamnya sekitar jam 10-an, Naif unjuk gigi menghibur para fans fanatiknya. Saya cukup menikmati aksi panggung mereka. Sampai tiba pada sebuah lagu yang bait refrain-nya ditulis di layar kaca mengiringi lagu itu dimainkan. Begini tulisannya, "DAVID, PEPENG, EMIL, DAN JARWO BERMAIN BERSAMA DIDALAM SATU BAND. MEREKA BERMAIN BERSAMA DIDALAM SATU BAND."
Jujur, saya agak terganggu dengan tulisan ini.

Apa benang merah isi tulisan ini? Maaf, bukan saya merasa sok tau tentang penulisan ejaan yang benar. Tapi, menurut kaedah EYD (Ejaan yang Disempurnakan), partikel di pada tulisan di atas adalah kata depan (preposisi) bukanlah awalan. Di sebagai kata depan harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan di sebagai awalan harus disambung dengan kata yang mengikutinya. Kita harus jeli dan teliti terhadap perbedaan itu.

Yang saya sayangkan, kenapa kesalahan seperti itu justru terjadi pada dua media nasional secara bersamaan.

Maaf, kalau ada yang tersinggung. Semoga menjadi kritik konstruktif. :)