Selasa, 10 Juli 2012

Musik Jujur

Semalam saya menonton Radioshow di TV-One. Seru banget, temanya Metamorfosa Jalan Potlot No. 14. Mereka yang tampil adalah anak-anak band yang sudah sukses merambah blantika musik Indonesia. Sebut saja Boris dan Njet (The Flowers), Anda Perdana (Bunga), Aray dan Dade (Ray D'Sky), Massto (Kidnap), Well Willy (No Limit), Indra Qadarsih (BIP), Reynold (ex-Slank), Sarah Wijayanto (ex-backing vocal Slank), dan beberapa musisi lainnya. Sebuah reuni kecil-kecilan yang cukup memberikan gambaran tentang kehangatan Gang Potlot yang konon katanya menjadi tempat berkumpulnya musisi-musisi jagoan Indonesia era '90-an. Acaranya cukup menghibur meskipun sejumlah dedengkot lainnya tidak bisa hadir, seperti Slank, BIP, Oppie Andaresta 'n BOP, Plastik, Anang, atau Opick. Dalam penampilannya semalam, mereka membawakan tiga lagu grunge yang saya suka juga, Would? (Alice in Chains), Daughter dan Why Go (Pearl Jam). Mereka juga membawakan beberapa lagu hits dua orang sahabat mereka yang sudah wafat, Sunset, Ikan Bakar (keduanya lagu Imanez), dan Sanggupkah (Andy Liany).

Dari beberapa obrolan mereka dengan host Wendy Putranto kemarin malam, saya teringat kembali akan sejarah panjang Gang Potlot. Tentang cerita perjalanan susah senang band besar Slank. Cikini Stone Complex yang menjadi cikal bakal Slank yang vokalisnya dulu adalah Well Willy. Anang yang nekat ke Jakarta demi karier bermusik, lalu nyasar ke Potlot hingga mendirikan Kidnap dengan Massto (adik Bimbim). Imanez (alm.) yang ternyata bersaudara dengan Didit Saad (Plastik). Baron, Ronald, dan Thomas yang sering nongkrong bareng dan bertemu Dewa Budjana di Potlot, lalu membentuk Gigi atas anjuran Pay BIP. Ahmad Dhani dan Ari Lasso yang tidak memungkiri bahwa musisi-musisi daerah, setibanya di Jakarta, pasti berkunjung dan kumpul-kumpul di gang bersejarah itu. Dan, masih banyak lagi serentetan cerita-cerita klasik-musik lainnya.

Kebetulan malam itu, sebuah stasiun TV lain menayangkan Konser AMI Awards, yang para pengisi acaranya adalah boys-girls band jaman sekarang dan penampilan host-nya hanya sekadar lawak-lawakan, kurang bisa memberikan edukasi dan wawasan musik yang sebenarnya, paling tidak untuk acara sekelas AMI Awards. Ah, saya jadi berpikir, ini adalah kemunduran industri musik Indonesia atau hanyalah sebuah transformasi tren musik industri yang sudah tidak bisa saya ikuti lagi alurnya? Bukannya saya apriori dengan kenyataan yang ada, tapi setidaknya boleh dong beropini. Toh, nantinya itu menjadi pilihan masing-masing. Mau memilih musik yang seperti itu, yang lagi ngetren saat ini atau memilih musik yang kita senangi, musik dari hati?

Satu hal yang bisa saya ambil untuk dijadikan pelajaran dari acara reuni anak-anak Potlot kemarin adalah kejujuran dalam bermusik. Menurut Dade, bassis Ray D'Sky, "Potlot itu tempatnya bermacam-macam genre musik, ada kejujuran di situ. Itu menjadi bukti, kenapa lagu-lagu Slank misalnya, masih tetap everlasting sampai sekarang. Orang-orang tidak gampang bosan mendengarkan lagu-lagu Slank." Menurut saya pribadi, lagu jaman sekarang berbeda dengan lagu jaman dulu. Kalau lagu sekarang, baru dua atau tiga kali didengarkan, orang sudah mulai bosan, dan akhirnya lagu-lagu itu tidak terdengar lagi gaungnya, hilang tergantikan lagu-lagu yang lebih baru lagi, dan begitu seterusnya. Apa karena bikinnya tidak jujur, ya? Apa karena hanya mengejar eksistensi semata, jadinya mudah nongol dan mudah juga tenggelamnya?

Merujuk pada closing statement Dade, "Bermainlah musik dengan hati. Jika kita jujur dalam bermusik. Orang yang mendengarnya akan ikut senang." Istilahnya, ada transfer dan bagi-bagi energi di situ. Saya jadi teringat pendapat Adhi (Pure Saturday) yang saya kutip di Portal Indonesia Kreatif, "Kalau kami main dan penonton nyanyi bareng, itu yang bikin puas. Kayak ada orang dengerin di Australia. Lagu kami memang nggak terlalu menjual di industri dan kami juga nggak terlalu peduli untuk dapat awards dan tetek bengek industri lainnya. Bagi kami yang berkesan ketika Pure Saturday itu ada yang mengapresiasi dan memiliki makna terhadap band ini. Kayak lagu kami “Elora” tiba-tiba jadi nama orang, terus ada yang pacaran karena lagu kami, edan gitu... maknanya dalam, dibanding awards. Karena itu sentimental banget. Nggak sembarangan, maknanya edan,” ujar Adhi. “Kalau mau bikin musik ya bikin aja, jangan kepatok buat jualan. Kalau sekarang bikin musik tuh kayak harus jualan. Yah itu pilihan. Karena kita memilih untuk tidak seperti itu”. Menurut Adhi, kunci yang membuat Pure Saturday bertahan sampai sejauh ini karena mereka jujur terhadap musik yang mereka mainkan. Mereka membuat Pure Saturday ini mengalir apa adanya dan sebisa mungkin untuk tetap eksis di musik Indonesia, lewat kejujuran mereka dalam bermain musik.

Akhir tulisan ini, support your local musicians, tentunya para musisi yang sebenarnya, yang bermain musik dengan jujur, dari hati tanpa embel-embel tertentu.

Saya bermain musik karena ingin bersenang-senang, bukan karena ingin terkenal. Kalau ada orang bermain musik hanya karena ingin dikenal, kasihan sekali mereka.
-Stephanus Adjie (Down For Life)-

3 komentar:

  1. he idol n boy banci, ente maen musik mo terkenal.!!kasian amat ente..

    BalasHapus
  2. Iyah.. Shownya bgs!!
    Sayang bgt Slank ga ada..
    Potlot reunion udh..
    Smoga bs liat slank reunion..
    Apalagi formasi 13
    hahahaha... :D
    *i wish..

    BalasHapus
  3. yes, potlot tempat lahirnya musisi musisi keren Indonesia. Komunitas yang benar benar komunitas. kekeluargaanya berasa banget,saling suport,saling memberi.
    dan yang belum di kupas di artikel ini, di sana semuanya serba DIY ( Do It by Your self) dan itu yang membuat mereka kuat.
    kaya info yang pernah aku baca di http://djikas.net jebolan potlot sangat sangat luar biasa sekali.

    BalasHapus