Senin, 23 April 2012

Menjadi Anak Metal Adalah Pilihan

Suatu kali, saya pernah berkelakar pada teman saya via SMS. Begini isi SMS-nya, “Daripada menjadi anak pengajian, mendingan jadi anak metal saja.” Kalimat itu saya lontarkan ketika kami asyik-masyik ngobrol tentang sikap arogansi sebuah organisasi agama yang suka melakukan kekerasan atas nama agamanya. Dan, saya resah atas fenomena ini. Lantas, teman saya itu membalas pesan saya begini, “Ah, nggak lah, saya mau jadi anak baik-baik saja.” Itu cukup menggelitik pikiran saya. Saya berpikir apakah anak metal bukan anak baik-baik seperti yang teman saya pikir? Karena bukan apa-apa, beberapa teman saya yang suka musik metal ternyata baik, sopan, dan tetap bersikap atau bertindak sesuai koridor normatif. Bahkan seorang Ombat Nasution, vokalis Tengkorak yang notabene memainkan lagu-lagu cadas ala metal, menyuarakan syiar Islam dalam setiap lirik lagu-lagunya.

Kirim balas SMS masih berlanjut. Saya bertanya lagi, “Definisi anak baik-baik menurut kamu, apa sih?” Teman saya membalas, “Anak baik-baik itu adalah anak yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan anjuran agama.” Sebuah pendapat yang objektif menurut pemikiran semua orang. Tapi, teman-teman saya yang suka musik metal juga berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan anjuran agama. Berarti kita tidak boleh dong menggeneralisir anak metal bukanlah anak baik-baik?

Mungkin sudah saatnya kita harus mengubah paradigma berpikir kita tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sosial. Menurut saya, mau menjadi anak pengajian, anak metal, anak motor, atau anak apa saja lah, itu adalah pilihan. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, bisa membedakan antara hal-hal yang baik dan buruk, termasuk tidak mengintimidasi orang lain. Toh, saya juga melihat sendiri bagaimana komunitas-komunitas metal itu solid, suka damai, bahkan ikut menjadi aktivis yang peduli dengan masalah-masalah sosial. Tapi, lihatlah juga orang-orang yang berpenampilan dan bersikap baik-baik menurut pandangan orang, ternyata suka melakukan kekerasan, melanggar HAM, dan mengkorup uang rakyat.

Sekali lagi, wahai temanku, menjadi anak metal adalah pilihan.

3 komentar:

  1. saya anak metal (asli daerah), kami suka musik keras, tapi tidak suka dengan kekerasan. terserah mereka bilang kami kafir atau penganut setan. musik itu musik, agama ya agama. itu saja

    BalasHapus
  2. Intinya tuh baik buruk jgn dinilai dr penampilan yah pak ivan bass?

    BalasHapus