Senin, 23 April 2012

Berpikir Positif

Apakah kamu suka lagu-lagu Wali? Atau, barangkali kamu Parawali? Tentu kamu tahu dan hapal lagu Yank. Mari kita dengarkan lagu itu sambil bergoyang. Sekali-sekali ikut bernyanyi bersama Bang Faank.

Nah, kalau kita baca lirik reff-nya, tentu ada yang menggelitik. Coba deh, perhatikan!

Part Cowok:

Yang... Coba kau jujur padaku
Yang... Foto siapa di dompetmu
Yang... Kok kamu diam begitu
Sayang jawab atau aku pergi sayang

#
Aku tak mau bicara
Sebelum kau cerita semua
Apa maumu, siapa dirinya
Tak betah bila ada yang lain
Jangan hubungi ku lagi
Ini bisa jadi yang terakhir
Aku ngerti kamu
Kau tak ngerti aku
Sekarang atau tak selamanya

Yang... Jangan kira ku tak tahu
Yang... Tak mudah kau bodohi ku
Yang... Tolong dengarkanlah aku
Tapi sayang
Masih pantaskah kau kupanggil sayang
 

Lagu itu menceritakan tentang seorang cowok yang curiga atau berburuk sangka pada kekasihnya. Itu terlihat jelas dari kata-katanya. Dia menuduh ceweknya selingkuh karena dia punya bukti-bukti kuat tentang itu.

Nah, setelah itu giliran si cewek menyangkal tuduhan sang kekasih. Ini dia pengakuannya.

Part Cewek:

Salahmu mau bicara
Dan ku akan cerita semua
Apa mauku, siapa dirinya
Karna memang tak ada yang lain
Terus hubungiku lagi
Jangan bilang ini yang terakhir
Aku ngerti kamu
Kamu ngerti aku
Aku sayang kamu selamanya
 

Mana yang benar, nih? Atau jangan-jangan si cewek yang berbohong, berkata seperti itu untuk menutupi kesalahannya. Astaghfirullah... Kini giliran saya yang berburuk sangka pada cewek itu, mengira-ngira dia tidak berkata jujur, hehe...

Tapi, apapun itu, ada baiknya kalau kita berpikir positif, tidak menilai atau menuduh orang macam-macam. Teman saya pernah berkata, kalau kita berpikir positif, maka aura dan energi yang kita pancarkan positif juga. Alhasil, semua yang kita kerjakan akan berhasil dan berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Bayangkan, jika kita selalu berpikir negatif. Pikiran dan hati kita tidak akan pernah tenang, mudah curiga, dan orang lain juga akan terkena dampak negatifnya.

Dan, ini yang lebih penting lagi, berusaha untuk jujur, meskipun sebenarnya tidak gampang untuk bersikap jujur di jaman sekarang. Saya teringat petuah bijak Alm. Rosihan Anwar, seorang wartawan senior. Beliau berkata, You can achieve a lot of things in the world if you honest. Tapi, lagi-lagi, meskipun kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, nampaknya jujur sekarang sudah menjadi barang langka.

Kembali ke lagu Wali, Yank. Dalam konteks lagu itu, bayangkan kalau ternyata si cewek tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan si cowok. Nama baik si cewek jelek di mata kekasihnya, dan bisa-bisa hubungan mereka kandas di tengah jalan, hanya karena buruk sangka. Tapi, bagaimana kalau ternyata si cewek benar-benar selingkuh. Berarti dia berbohong dong, karena berkata yang tidak sesungguhnya.

Jangan menganalisis tulisan ini terlalu dalam, kawan. Ini hanya sebuah lagu. Dan, saya hanya sekadar menulis tentang paradoksitas lagu ini, hehe... . 

Tetap berpikir positif dan berusaha jujur semampu diri.

Ayo, Bang Apoy, mainkan melodinya... .

Menikmati Pure Saturday di Bangku Taman

Pure Saturday dan Bangkutaman. Dua band ini mungkin terdengar asing di telinga pendengar musik mainstream, tapi tidak demikian bagi pendengar musik dan komunitas musik indie. Bangkutaman adalah pelopor pergerakan musik pop indie di Jogja. Band yang genre musiknya sudah berubah menjadi psychedelic folk rock ini cukup diperhitungkan di komunitasnya. Begitu pula dengan Pure Saturday. Siapa yang tidak tahu band britpop ini. Lahir dari komunitas band indie Bandung bersama PAS Band dan Puppen, band ini juga disebut-sebut sebagai pionir lahirnya scene musik pop indie di Indonesia.

Saya adalah penggemar dua band ini. Ibaratnya, saya menemukan kembali sesuatu yang pernah terlupakan di masa lalu secara tidak sengaja. Di tahun 90-an, saya pernah menyimak video klip lagu hits Pure Saturday, Kosong. Nuansanya gelap dan galau. Saya langsung suka ciri khas band ini, tetapi belum berani mendalami musiknya. Maklum, jaman dulu sepertinya otak kita terbius dan terdoktrin dengan musik band-band besar mainstream kala itu. Sebut saja, Dewa 19, Slank, GIGI, Boomerang, Kahitna, Java Jive, U’Camp, Power Metal, dan masih banyak lagi tentunya.

Di awal tahun 2000-an, saya suka menonton MTV Alternative Nation Indonesia. Dari sekian band indie yang nongol di acara ini, musik Bangkutaman terdengar ramah di telinga saya, meskipun nuansa  video klipnya terlihat aneh. Tapi memang begitu ‘kan ciri khas musik indie. Apa yang dibuat dan ditampilkan serasa bebas sesuai keinginan mereka.

Ketertarikan saya untuk menyelami musik Pure Saturday muncul ketika saya membaca review album kilas balik mereka, Time for a Change, Time to Move On di Majalah Rolling Stone Indonesia. Review itu berhasil  membujuk saya untuk mencari tahu tentang Pure Saturday lebih dalam. Lain halnya dengan Bangkutaman, awal mula ketertarikan saya adalah ketika band ini tampil dalam acara talkshow Kick Andy. Waktu itu, Andy F. Noya mengangkat topik tentang perbedaan karir dan pekerjaan. Para personil Bangkutaman ternyata memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda. Ada yang bekerja sebagai jurnalis, pengacara, dan copywriter. Musik dijadikan karir bagi mereka. Belakangan saya tahu, bahwa para personil Pure Saturday memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda pula. Bagi awak Pure saturday, musik sudah dijadikan suatu kegiatan untuk mengisi waktu luang. Wow, mereka hidup di dua alam rupanya hehe... .

Berawal dari tidak sengaja, sekarang lagu-lagu dua band unik ini menjadi daftar putar di gadget saya. Tidak bermaksud berlebihan, jiwa saya melayang-layang ketika mendengarkan lagu-lagu mereka. Inilah saatnya menikmati sejatinya hari Sabtu sambil duduk-duduk di bangku taman.




Menjadi Anak Metal Adalah Pilihan

Suatu kali, saya pernah berkelakar pada teman saya via SMS. Begini isi SMS-nya, “Daripada menjadi anak pengajian, mendingan jadi anak metal saja.” Kalimat itu saya lontarkan ketika kami asyik-masyik ngobrol tentang sikap arogansi sebuah organisasi agama yang suka melakukan kekerasan atas nama agamanya. Dan, saya resah atas fenomena ini. Lantas, teman saya itu membalas pesan saya begini, “Ah, nggak lah, saya mau jadi anak baik-baik saja.” Itu cukup menggelitik pikiran saya. Saya berpikir apakah anak metal bukan anak baik-baik seperti yang teman saya pikir? Karena bukan apa-apa, beberapa teman saya yang suka musik metal ternyata baik, sopan, dan tetap bersikap atau bertindak sesuai koridor normatif. Bahkan seorang Ombat Nasution, vokalis Tengkorak yang notabene memainkan lagu-lagu cadas ala metal, menyuarakan syiar Islam dalam setiap lirik lagu-lagunya.

Kirim balas SMS masih berlanjut. Saya bertanya lagi, “Definisi anak baik-baik menurut kamu, apa sih?” Teman saya membalas, “Anak baik-baik itu adalah anak yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan anjuran agama.” Sebuah pendapat yang objektif menurut pemikiran semua orang. Tapi, teman-teman saya yang suka musik metal juga berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan anjuran agama. Berarti kita tidak boleh dong menggeneralisir anak metal bukanlah anak baik-baik?

Mungkin sudah saatnya kita harus mengubah paradigma berpikir kita tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sosial. Menurut saya, mau menjadi anak pengajian, anak metal, anak motor, atau anak apa saja lah, itu adalah pilihan. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, bisa membedakan antara hal-hal yang baik dan buruk, termasuk tidak mengintimidasi orang lain. Toh, saya juga melihat sendiri bagaimana komunitas-komunitas metal itu solid, suka damai, bahkan ikut menjadi aktivis yang peduli dengan masalah-masalah sosial. Tapi, lihatlah juga orang-orang yang berpenampilan dan bersikap baik-baik menurut pandangan orang, ternyata suka melakukan kekerasan, melanggar HAM, dan mengkorup uang rakyat.

Sekali lagi, wahai temanku, menjadi anak metal adalah pilihan.

Minggu, 22 April 2012

Sebuah Pengantar

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menulis di blog. Setelah sekian lama terkungkung oleh ‘penyakit’ menunda-nunda waktu untuk menulis. Dan, ini adalah debut menulis saya. Sebuah pengantar yang semoga dapat menginspirasi saya untuk menulis dan menulis lagi.

Kata teman saya, jika kamu ingin menulis, tulis saja apa yang ingin kamu tulis. Meskipun pada awalnya, saya pun tidak tahu kata-kata pertama apa yang harus saya tulis. Namun perkataan teman saya ternyata cukup ampuh dan mujarab juga melawan ‘penyakit’ itu, sehingga saya memberanikan diri untuk menulis.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis. Mungkin tidak ada kata terlambat juga untuk mengakhiri tulisan pengantar saya ini, sebelum semuanya benar-benar terlambat untuk membuat tulisan perdana saya ini menarik. Karena ada semacam kepercayaan bahwa kesan pertama itu menentukan dan begitu menggoda, dan selanjutnya terserah anda. Mungkin yang dimaksud selanjutnya terserah anda adalah bisa saja kamu tidak suka dengan tulisan ini karena kegaringannya, hehe... .

Akhirnya, untuk menghindari kegaringan itu, saya harus menulis satu kata yang biasa ditulis dalam ending film-film lawas Rhoma Irama: WASSALAM.