Selasa, 25 September 2012

Atas Nama Pasar

Tanggal 21 September 2012 lalu, saya menonton Konser untuk Beta, Glenn Fredly di Indosiar. Sebenarnya antusiasme saya menonton Glenn Fredly di atas panggung sudah berkurang, tidak seperti dulu ketika dia sedang baru-barunya mengkultuskan diri sebagai penyanyi solo. Apa karena sekarang, saya lagi getol-getolnya menikmati musik britpop indie, ya? Ah, entahlah..., tapi yang jelas malam itu, saya iseng saja menonton performance Glenn.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya, pernyataan Glenn di sesi interview malam itu. Pernyataan Glenn yang meretorika. Dia mengatakan bahwa musik Indonesia saat ini sudah sangat berkembang. Berkat adanya jejaring sosial, banyak musisi daerah muncul ke permukaan. Tapi sayang, mereka tidak punya kanal. Major label tidak mewadahi mereka. Akhirnya, mereka bergerak sendiri melalui jalur indie. Musik di TV sekarang ini tidaklah menggambarkan musik Indonesia yang sesungguhnya.  

Benar sekali perkataan Glenn. Ke mana kejayaan musik 70-an, 80-an, dan 90-an? Mungkin benar juga kata Ahmad Dhani, musik 2000-an itu hanyalah pengulangan musik tahun-tahun sebelumnya. Lucunya, setiap ada penyanyi/band sukses menelorkan suatu jenis musik atau lagu, dan itu menjadi booming, lantas ditiru habis-habisan oleh penyanyi/band yang lain. Kenapa musik yang sedang nge-tren sekarang seperti itu-itu saja, ya?  Sampai-sampai saya bingung cari channel yang menyajikan acara musik yang bagus. Tapi, untung masih ada beberapa channel TV yang menawarkan alternatif acara musik yang beda, misalnya seperti Radioshow, Musik+, atau Musiklopedia.

Industri musik sendiri sebenarnya terbagi menjadi dua kubu, mainstream dan sidestream. Mainstream itu digerakkan oleh major label. Sementara sidestream bergerilya lewat jalur indie, Do It Yourself (DIY) kata anak indie bilang. Nah, permasalahannya sekarang adalah musik yang ditawarkan major label hanya mengikuti selera pasar semata. Masyarakat secara mayoritas ingin musik apa, itulah yang mereka (major label, red) berikan. Pendengar musik sekarang lebih suka musik easy listening, nge-pop, mellow, dan entah apa lagi sebutannya.  Kata Yovie Widianto, "Musik yang stereotype." Isi liriknya pun nyaris semua sama, seperti yang disitir Efek Rumah Kaca dalam sebuah lagunya, Cinta Melulu. "Oh oh... Lagu cinta melulu. Kita memang benar-benar melayu. Suka mendayu-dayu. Apa memang karena kuping melayu. Suka yang sendu-sendu. Lagu cinta melulu."
Maka tidaklah heran kalau penyanyi/band yang nongol di TV hanya itu-itu saja. Semua hanya datang dan pergi seketika, terkenal dan tenggelam secara instan.

Kalau saya bilang, ibaratnya seperti katak dalam tempurung. Sebenarnya masih banyak band-band indie yang kualitas musikalitasnya bagus dan unik. Hanya sayangnya, mereka tidak terekspos media nasional. Malah mereka lebih terkenal di luar negeri. Malah, yang menghargai eksistensi mereka adalah orang-orang di luar sana. Sebut saja, Mocca, The White Shoes and Couple Company, Sore, Bangkutaman, Pure Saturday, Navicula, Shaggydog, Burgerkill, dan masih banyak lagi tentunya. Silahkan searching sendiri. :)

Sudah seharusnya musik Indonesia itu mengedukasi. Eksistensi acara-acara musik yang berpihak pada musik indie harus terus dipertahankan, supaya ada balancing. Major label dan indie label harus sama-sama berdiri kuat, bahkan harus bersimbiosis mutualisme, saling melengkapi dan menopang. Tentunya, untuk satu tujuan: musik Indonesia yang berkualitas.